Pancasila Pericolosamente

Sajak Hasan Aspahani

Selamat pagi, Pancasila
aku menyapamu dengan geretar
suara kendaraan dengan servis yang tak disiplin
dari arah lurus dan datar
di ruas Tentara Pelajar
melewati sekerumun pengojek lelah
menunggu notifikasi dari aplikasi
di depan Stasiun Palmerah

Aku ingin mengajakmu
kembali pada kami sebelum
engkau mati lagi dalam bingkai
di dinding kantor dan sekolah
sebelum nanti aku menyatukan diri
di Jenderal Sudirman
masih jauh, tapi tak apa
jalan masih nyaman
meskipun akan sedikit sendat
di perlintasan kereta
dan kota yang ganjil ini
terus saja berpura-pura
bisa menggenapkan hidup kami
warga kota yang tak berdaya
dan tak kapok mencoba saling
membaca lagi engkau sila demi sila.

Selamat pagi, Pancasila
aku berkendara tak memilih jalan,
pasrah dan mengikut saja
pada petunjuk peta yang beri tahu
aku ada di jalan apa
dan harus berbelok ke mana.

Di tangan mereka, Pancasila
kau jadi manis manis manis kenangan
dan jauh jauh jauh lenso nostalgico

– vivere pericolosamente! –

kau jadi komoditi yang pura-pura dipahami
para cukong dan makelar memperjualbelikan
dengan harga murah sekali

Apakah engkau akan mengantar kami
masuk surga, wahai, Pancasila?
Mungkin, sebab engkau
telah bikin kami jadi rakyat yang sabar
(bukankah Tuhan sayang pada mereka yang sabar?)
dan doa kami terutama adalah harapan pada surga
(bukankah doa rakyat teraniaya langsung diurus Tuhan?)

Aku telah memasuki Gatot Subroto
melingkar tadi di Semanggi
tak melewati Senayan atau Gerbang Pemuda
Bersama pagi melagukan,
“o, pikir lagi, pikir dua kali”,
lirik yang ingin kuganti dengan sajak ironi
tentang antrean mobil curian
macet total di jalan menuju kantor tuhan

Selamat pagi, Pancasila
kalau siang mulai panas
atau petang nanti bila aku kembali
melewati jalan rutin ini Rasuna Said lagi,
lewat K.H. Mas Mansyur atau Galunggung lagi,
aku mau bikin jus dari kandunganmu
kuperas kuperas kuperas dan bagiku
engkau selalu segar, lengas dan bernas….

Sementara mereka sibuk berebut ampas!

Selamat pagi, Pancasila
bersama kami terus mencoba membawamu
kembali menjadi ideologi, lewat
kantor KPK di Kuningan tadi,
dan aku akan memutar lagi, berputar lagi
ke orang besar yang namanya mengecil
dan tertinggal sebagai toponomi kota,
atau pahatan di batu nisan
di taman makam pahlawan,
sementara kau berkali-kali
– dan kami tak akan membiarkanmu lagi –
hanya menjadi propaganda,
menjadi bahan indoktrinasi.

2020

Satu pemikiran pada “Pancasila Pericolosamente

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s