Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (3)

BILA kita mundur ke kurun tahun yang lebih silam kita bisa menemukan beberapa sajak Rivai Apin, kompanyon Chairil dalam tiga menguak takdir. Rivai menulis beberapa sajak yang saya anggap sebagai percobaan dengan bentuk haiku, dalam beberapa model.

Umumnya sajak-sajak Rivai adalah sajak yang panjang. Dan tampaknya dia nyaman dan telah mencapai sesuatu gaya dengan sajak panjang itu. Karena itu, sajak yang dekat dengan haiku itu saya katakan sebagai eksperimen. Dan sepertinya beliau tak merasa berhasil, tak melanjutkan eksperimennya dengan sajak pendek ala haiku itu. Mari kita lihat.

GELISAH

gelisar tidur
otak pecah-pecah, kenangkan bukan-bukan
semua panas hampa semata

10-5-46

Sajak ini berbentuk seperti haiku, isinya ekspresi perasaan bukan gambaran visual suatu pemandangan. Pengaturan tiga baris dalam satu larik, dan sebuah sajak utuh diselesaikan dalam satu bait itu saja mengasosiasikan pada bentuk haiku yang ringkas padat itu. Berbeda dengan sajak berikut.

?

samar senja membuat gelap
seekor layang terbang pergi
hilang dimakan malam.

nanti tiba juga waktunya
akan terbang pergi ini nyawa
dan hilang ditelan gelap malam ketiadaan.

8-8-46

Sajak ini tanpa judul atau judulnya “?” (tanda tanya). Bait awal, dengan mengabaikan aturan jumlah suku kata, dekat sekali dengan haiku. Seluruhnya adalah citraan visual layaknya sebait haiku. Tapi, bait itu tak berdiri sendiri. Bait awal itu seakan menjadi sampiran seperti pada pantun untuk ekspresi isi perasaan di bait kedua. Rivai menggabungkan haiku dan pantun, atau soneta dalam hal pembagian pemandangan dan tanggapan yang dibagi dalam dua bait yang diperuntunkan.

Ada dua sajak lagi yang ditulis Rivai pada tahun 1946 yang tampak berlandas pada estetika haiku yang kemudian dengan sedikit perubahan muncul lagi di tahun 1947.

Setelah itu sajak-sajaknya hingga tahun 1961, menurut yang bisa kita temukan dalam buku “Dari Dua Dunia Belum Sudah” (atas upaya Harry Aveling sebagai editor dan diterbitkan oleh Universiti Sains Malaysia, 1971) Rivai menulis sajak-sajak panjang. Haiku, bagi Rivai, dalam perkembangan jiwa dan perhatiannya selanjutnya, tampaknya tak menarik lagi untuk dikulik. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s