Kota Ini

KOTA ini bangsal sesak dan besar
orang usiran mengungsi
dari ketakutan
malam dengan sunyi
dan suara tembakan

Kota ini bandar yang ramai
kapten itu berseru,
“ohoi, kucium bau rempah!”
Atau aroma darah
(demi diksi dan rima)

Kota ini rapat gelap malam hari
sejumlah orang
mengumpulkan huruf
menyalakan kata “revolusi”

Kota ini tugu tinggi menjulang
rambatan bagi benih yang ditaburkan
sedikit harapan,
banyak kehilangan

Kota ini stasiun dan terminal
tak ada penjemput bagi yang datang
cari sendiri alamat
di kawasan tanpa nama

Kota ini sebak sungai mau mati
putus dari hulu mampat ke muara
di situ kau mandi
dan buang kotoran

Kota ini jalan mewah-panjang
nama pahlawan yang tak bisa membelamu
dari intaian bahaya
di tiap tikungan

Kota ini jembatan penyeberangan
senja menyilu pada halte yang kau benci
repetisi (baca: rutinitas) menggeramusmu

Kota ini menara perkantoran
penunggu jam kerja,
para pekerja magang
karyawan menghitung keseimbangan
antara sisa kredit kendaraan
dan jaminan pensiun

Kota ini kau, aku, dia,
kita, kau tanpa aku,
kita tanpa dia, dia tanpa kau,
kita tanpa kita. Aku
tanpa aku.

Jakarta, 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s