Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (2)

SUBAGIO Sastrowardoyo dalam “Keroncong Motinggo” (1975) menyertakan satu sajak yang beliau beri judul “Haiku”. Secara bentuk sekilas sajak itu sangat jauh dari haiku jika yang dimaksud adalah haiku sajak formal yang dari Jepang itu. Puisi itu terdiri dari sepuluh baris. Aneh, judul dan isi sajak tak kompak. Mari kita baca:

HAIKU

malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susur di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

Kenapa Subagio memberi judul pada sajaknya ini “Haiku”? Apakah beliau bermaksud menulis haiku? Tapi kenapa sajak ini sama sekali tak mengikuti aturan ketat haiku? Rasanya tak mungkin juga menyimpulkan bahwa beliau tak tahu apa itu haiku dan bagaimana menuliskannya. Sajak ini adalah sajak liris-imajis ditulis dalam bentuk bebas. Ya, sebuah sajak bebas. Bukan haiku.

Barangkali, ya memang hanya sebuah dugaan, Subagio ingin memakai kata haiku pada judul sebagai alusi untuk menjelaskan seseorang yang menunggu seseorang yang tak datang, tak jelas juga akan datang atau tidak, dan dia kesal (tangan terkepal/terhenyak di meja), akan tetapi dia toh – seperti penulisan haiku – harus menyamarkan kesal itu dengan dan dalam kehadiran hal-hal lain yang terindera, kepal tangan di meja itu misalnya.

Tapi bisa juga begini. Apabila kita mau tata ulang sajak ini, kita bisa menemukan tiga bait haiku, atau sesuatu yang hampir haiku. Mari kita coba:

malam rebah
di punggung sepiku
gigir gunung

susur di kaca
hari makin surut
(dan) bibir habis kata

dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

Lebih terasa semakin menyerupai haiku bukan? Meskipun tetap saja hanya hampir haiku. Dan saya ingin simpulkan Subagio dalam sajaknya ini memang sedang menafsir ulang bentuk haiku, menuliskannya menjadi sajak bebas. Beliau semula tampaknya memang ingin menulis haiku, mengikuti ikatan-ikatannya, tapi kemudian karena tidak memuaskan sebagai jalan ucap bagi apa yang hendak ia ekspresikan beliau pun lalu bereksperimenlah menabraknya. Hasilnya adalah sebuah sajak bebas yang berangkat dari haiku. Dalam ketegangan antara konvensi (haiku) dan inovasi (melanggar aturannya) Subagio memenangkan inovasi. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s