Surat untuk Seseorang yang Bertanya tentang Puisi (6)

Salam sejahtera senantiasa untukmu,

Saya ingin menanggapi puisi yang engkau kirim dan engkau harapkan aku menilainya. Baiklah, saya akan menanggapi tapi belum ingin memberi penilaian. Saya hanya akan katakan engkau sudah bekerja sebagai penyair, mencari cara ucap dari apa yang hendak engkau ucapkan.

Di dalam beberapa sajakmu engkau memasukkan nama-nama dari khazanah produk pop. Engkau tuliskan Marlboro, Popeye, Jusuf Kalla, Uniqlo, Alfamart, Rinso bahkan merek kondom, dll.

Tentu saja pertama harus saya apresiasi itu sebagai sebuah eksperimen yang diperbolehkan, kalau engkau bertanya apakah itu boleh dilakukan. Ya, tentu saja boleh. Puisi tak harus memakai kata-kata arkaik atau kata-kata antik. Semua kata boleh dan berhak kau ikutkan dalam puisi kita. Tugasmula memberi tempat pada puisimu, pada cara ucapmu, dengan memakai kata-kata itu agar mereka hadir dengan wajar bahkan segar. Tidak janggal atau bakan genit bin kenes.

Engkau pasti tersadarkan betapa lingkungan kita ini dipenuhi merek-merek. Ini zamannya merek, zamannya “brand”, bukan? Brand adalah pertaruhan berhasil tidaknya sebuah produk dipasarkan, brand adalah asset. Merek-merek berlomba-lomba menjadi nomor satu bahkan menjadi yang paling identik dengan jenis produknya. Maka, orang pun mengidentikkan sepeda motor dengan Honda, rokok rendah nikotin dan tar sebagai Sampoerna A Mild, dll.

Bukankah Chairil Anwar pun menuliskan coca-cola dalam sajaknya “Tuti Artic”. Saya tak tahu seberapa popularkah minuman ringan itu pada tahun-tahun 1947 ketika ia menuliskan sajaknya itu. Saya tidak tahu adakah penyair lain yang pada tahun-tahun itu yang menuliskan hal yang sama. Tapi, keputusan Chairil memasukkan kata itu saya kagumi sebagai sebuah keberanian. Dia memang hebat, dan karena itu kita punya alasan banyak untuk mengaguminya, bukan?

Dan ketika enkau dengar kata Adidas apa yang terbayang? Yang terbayang adalah deretan kata-kata “sporty”, penyuka aktivitas fisik, gaya hidup sehat, muda, dan dinamis. Lihat, betapa merek itu seperti puisi juga bukan? Merek seperti menjadi metafora untuk citra apa yang hendak dikenakan pada merek itu dan pada produk itu. Maka, orang-orang berduit berburu dan doyan sekali pada barang-barang bermerek.

Saya katakan menyair adalah menjadikan sebuah kata seperti mereknya peristiwa, atau imaji, atau situasi, atau keadaan tertentu. Jika upaya itu berhasil, dalam sebuah sajak yang berhasil, maka ketika sebuah kata tersebut, maka terbayanglah sederetan kata lain yang dicitrakan pada kata itu.

Kita mengenal alusi dalam puisi, yaitu penyebutan satu hal yang membawa sejumlah imaji besertanya. Seperti yang kau lakukan dalam sajakmu, beberapa saya kira berhasil menjadi alusi yang membawa citraan yang cocok untuk memperkuat sajakmu.

Ya, kita memang tak bisa mengelak dari merek-merek yang mengepung itu bukan? Sekarang, saya kira kita tidak perlu melawan kepungan itu, kita manfaatkan merek-merek itu di dalam bait-bait puisi kita. Mungkin dengan cara itu kita tidak akan menambahkan apa-apa pada puisi, tapi ya itu tadi, kita telah memberi sesuatu yang baru pada puisi.

Sekian dulu suratku kali ini.

Salam,
Hasan Aspahani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s