Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (1)

APAKAH haiku masuk ke Indonesia bersama invasi Jepang? Atau sudah masuk ketika kegiatan mata-mata Jepang sepuluh tahun sebelum invasi itu? Atau lebih lama lagi? Sejauh ini saya belum punya data yang meyakinkan terkait kapan masuknya haiku di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan tadi pun diajukan asal-asalan saja mengingat haiku memang dari Jepang dan negeri itu dalam hal kebudayaan gencar sekali berdiplomasi. Kita ingat bagaimana tenaga seniman disatukan dan dikerahkan lewat Keimin Bunka Sidosho. Tapi sepelacakan saya tidak ada pembicaraan soal haiku di sana. Mungkin saya saja yang terlewat.

Beberapa jejak kecil yang bisa saya lacak adalah siapa dan kapan penyair Indonesia menulis haiku. Sementara saya kira ini menarik, meskipun harus dikatakan sejak awal bahwa catatan tinjauan sekilas ini masih sangat minim data dan fakta.
Siapakah yang pernah menulis haiku di Indonesia?

Dan dari sajak yang mereka sebut haiku itu seperti apakah perlakuan mereka terhadap bentuk formal itu? Secara acak – tidak kronologis, sepenjangkauan buku saja – saya ingin tampilkan dulu sajak Abdul Hadi WM. Dalam buku “Tergantung pada Angin” (Budaya Djaja, 1977) ada dua sajak yang berjudul haiku ditulis pada 1976.

Haiku, 1

Sungai,
Tapi yang mengalir
jam lambat.

Haiku, 2

Kupu-kupu sutra.
Oh! cahaya bergetar
dalam kehijauan yang tiba-tiba lenyap.

Jika kita berpegang pada judul maka dua sajak ini memang diniatkan sebagai haiku. Tapi apakah dua puisi ini memenuhi syarat-syarat kecukupan haiku? Jawabannya: tidak. Yang segera terlihat adalah syarat sebaran suku kata yang 5-7-5 itu. Kurang pada puisi yang pertama, berlebihan pada puisi yang kedua.

Bagaimana dengan ruh atau jiwa atau suasananya? Ya, dua sajak ini berhasil hadir dengan suasana haiku. Terutama terasa sekali terasa pemakaian kineji, pembedaan bait atau perpindahan dari gambaran situasi (sungai, kupu-kupu sutra) lalu dua baris berikutnya adalah persepsi (jam yang lambat mengalir, cahaya bergetar, dst.). Dalam dua sajak itu penyair juga menahan diri untuk tak menghadirkan sosok ‘aku’ dan hanya menghadirkan respon dari sang “aku” penangkap itu. Itu juga ciri yang dipenuhi oleh sajak ini untuk disebut sebagai haiku.

Saya kira tak mungkin Abdul Hadi WM tak tahu ketentuan ketat penulisan haiku. Pada tahun-tahun itu beliau sangat intens menggauli puisi. Beliau ada menulis esai panjang sekali tentang sejarah masuknya sajak imajis di Indonesia. Di esai itu tentu saja beliau menyebut haiku yang menjadi sumber inspirasi gerakan imajis di Inggris itu.

Seandainya beliau tak memberi judul haiku, maka dua sajak itu tetap kita terima sebagai ajak imajis-liris yang kuat. Sebagai haiku, suasananya dapat, sebagai mana tadi saya jelaskan, tapi syarat fisiknya yang melenceng, pelencengan yang saya yakin disengaja. Begitulah. Dari sini paling tidak kita bisa melihat bagaimana bentuk itu diadaptasi lewat sebuah eksperimen penulisan. Tidak secara mentah, tapi, disesuaikan. Abdul Hadi WM mengadopsi semangatnya, ruhnya, unsur batinnya, dan mengabaikan bentuk fisik kecuali kepadatan dan keringkasan juga ciri utama tiga baris itu. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s