Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (5)

Salam sejahtera selalu untukmu,

Terima kasih atas surat-suratmu. Maaf, saya lagi-lagi terlambat membalas. Saya sudah menerima dua suratmu sejak terakhir kali saya mengirim surat balasanku.

Engkau bertanya dengan cemas, bahwa tak ada lagi ruang baru tersedia untukmu karena telah habis dipakai oleh para penyair terdahulu. Kira-kira begitu yang aku tangkap. Agak kurang jelas bagiku, tapi kuharap memang itulah pertanyaanmu.

Saya kira, itu bukan masalah ketersediaan ruang penciptaan. Saya kira ini adalah soal kreativitas. Saya percaya kemungkinan kreatif masih sangat lebar terbuka untuk kau garap. Kreativitas memang tidak mudah. Kreativitas bukan seperti memasuki istana dengan seribu kamar, dan kita tinggal memilih salah satu ruang kamar dan kemudian menata interiornya sesuka hatimu. Bukan, bukan itu. Tidak semudah itu.

Ketika seorang penulis puisi mengulangi apa yang sudah pernah dicapai oleh penyair sebelum dia, maka menurut saya ada tiga penyebabnya. Pertama, dia tidak tahu apa yang sudah diciptakan oleh penyair terdahulu; Kedua, dia tahu tapi dia sengaja hanya ingin mengulang-ulang saja; Ketiga, dia tahu, dia tidak mau mengulang, tapi dia tidak mampu mencapai hal yang baru, tapi tetap ingin menulis.

Saya katakan padamu, kita perlu kasihan pada penyair yang menganggap ruang penciptaan puisi Indonesia sudah habis. Sekali lagi, kreativitas itu bukan perkara mudah. Tapi bukan sesuatu yang sakral pula. Hal-hal kecil bisa mengantar pada penemuan kreatif yang berkilau.

Apakah Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo itu dengan mudah begitu saja seperti berhadapan dengan sebuah ruang kosong? Lalu mereka mengkavling sendiri ruang untuk mereka tempat? Saya yakin tidak. Dan memang tidak. Kenapa tidak berpikir membuka ruang baru? Pergi ke batas lahan pengucapan hingga sampai ke wilayah tak bertuan lalu kita menggarap ladang pengucapan kita sendiri, seluas-luasnya?

Lho, benar begitu kan? Memangnya siapa yang menyediakan ruang untuk penyair-penyair itu duu? Bukankah mereka sendiri yang mencari? Menemukan? Dan mereka tak pernah menempuh jalan mudah.

Lima tahun setelah kematian Chairil Anwar, Asrul Sani – satu dari tiga sahabat penguak takdir – menyebutkan karya-karya Chairil ibarat ladang subur yang belum digarap. Artinya belum dapat tempat atau “kavling ruang” seperti kita “menyakralkan” dia saat ini. Jangan percaya bahwa penyair terdahulu itu mengkavling-kavling seenaknya dan tak menyisakan lagi bagi mereka yang datang kemudian. Sekal lagi lahan kreativitas itu harus kita ciptakan. Kita yang membuka sendiri. Memangnya kita meminta kepada siapa? Kavling kreativitas itu belum habis. Dan tidak akan pernah habis. Memangnya kreativitas itu adakah batasnya? Tidak ada.

Saya yakin hanya kemampuan kita saja yang belum dikerahkan maksimal untuk menjelajah lebih jauh. Tak ada yang tak mungkin. Jangan membatasi diri kita sendiri.

Penyair yang malang adalah penyair yang tidak bisa lagi melihat betapa luasnya ranah kreativitas yang masih bisa dia kerjakan di depan matanya, menyaujana, jauh dan luas. Orisinilitas itu harus diciptakan, diburu, dicari, diasah. Karya-karya terdahulu bukan penghalang bagi penemuan baru. Tentu saja engkau harus membaca Chairil, Sutardji, Rendra, Sapardi, dan karya-karya hebat lain.

Ibarat fisikawan kau tak bisa bilang sekarang kau menemukan teori gravitasi, setelah kau duduk-duduk di bawah pohon kedondong dan kepalamu kejatuhan buah kedondong. Apel dan kedondong memang beda. Kalau kau bilang kedondongmu orisinil dan beda dengan apelnya Newton, kau hanya akan diketawakan oleh Panitia Nobel. Ranah bagi fisikawan sudah habis? Tidak, tiap tahun selalu ada penemuan hal baru, bukan? Dan panitia Nobel tak pernah kehabisan kandidat. Dan kau tahu para fisikawan itu bekerja bukan semata-mata untuk dapat hadiah Nobel.

Pernyataan atau dugaan soal kavling ruang untuk puisi yang telah habis itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak perlu penelitian hanya untuk menyalahkan pernyataan yang bilang bahwa ranah kreativitas itu makin sempit. Saya setuju, karya-karya puisi di Indonesia harus diteliti, dipetakan dengan baik, dicatat pencapaian-pencapaiannya, dari peta itu nanti akan terlihat betapa kemungkinan pengucapan lain masih sangat terbuka. Telaah-telaah puisi yang bertebaran di buku, majalah, atau naskah seminar sebenarnya telah melakukan hal itu.

Terhadap “DukaMu Abadi”, Goenawan Mohamad melihat keberhasilan Sapardi mempertautkan kembali sajak Indonesia pada yang lirik, pada saat yang tepat. Sutardji membaca “Perahu Kertas” sebagai contoh sajak modern Indonesia dengan segala problem dan pencapaiannya. Asrul Sani menyebut karya-karya Chairil Anwar berhasil merebut hak sepenuhnya atas perkembangan bahasa ke tangan penyair dari tangan para guru sekolah. Joko Pinurbo kepada saya, pernah bercerita bagaimana dia memulai kesungguhannya menyair dengan menyusun semacam peta yang membentangkan karya Amir Hamzah hingga Sapardi Djoko Damono. Hasilnya? Ia melihat peluang untuk menggarap ranahnya sendiri. Kita kemudian bisa bertemu dan membaca keaslian sajak-sajak Joko Pinurbo.
Ada berbagai tingkatan niat orang menulis puisi. Tergantung pada tingkat niat dan tahap kedekatannnya, penyair atau penulis puisi boleh tak peduli pada apa saja, atau ia harus merasa sia-sia menyair ketika hanya mengulang-ulang apa yang sudah dicapai oleh penyair terdahulu. Sapardi tidak jadi Sapardi kalau dia hanya mengulang-ulang apa yang dicapai Rendra. Sutardji tidak akan jadi Sutardji kalau hanya mengulang-ulang Chairil Anwar.

Orisinalitas hanya bisa dicapai bila kita mempertimbangkan apa yang telah dicapai oleh pendahulu. Menjadi orang yang datang kemudian memang tidak enak. Tantangan memang lebih besar. Itu sebuah hukum alam bukan? Pada zaman dahulu ketika lahir manusia hanya akan diajari berburu, supaya kelak bisa hidup nyaman dan sejahtera di hutan. Sekarang? Anak-anak sudah harus masuk sekolah pada usia empat tahun, dan harus menempuh pendidikan 19 tahun minimal untuk lulus jadi sarjana. Belum tentu cepat dan mudah dapat kerja.

Tetapi saat menulis puisi harus dilakukan dengan gairah bermain. Menulis puisi harus dinikmati senikmat-nikmatnya. Tak perlu risau dengan hal lain di luar puisi dan diri sendiri, pada saat itu. Jarang-jarang kita bisa berduaan saja dengan puisi, bukan? Tetapi sebuah sajak yang selesai ditulis telah menjadi karya yang utuh, ibarat orang yang siap cari kerja. Dia siap menghadapi persaingan. Kalau bisanya cuma mengoperasikan peranti lunak sederhana, jangan coba-coba melamar kerja jadi desainer situs, atau penata wajah surat kabar. Tugas penyair di luar saat-saat sakral penulisan puisi adalah membuat dirinya senantiasa siap melahirkan puisi yang unggul. Dia harus membaca, mengkaji, mengamati, banyak hal, termasuk apa saja yang sudah dihasilkan oleh penyair terdahulu.

Penyair yang baik akan mencapai puncaknya sendiri. Dia punya cara-cara pengucapan yang khas. Dia punya pilihan-pilhan tema favoritnya. Dua gandrung pada satu dua kata yang seakan-akan telah jadi merek dagangnya. Dia punya bahasanya sendiri. Yang mestinya juga penting, dia punya gaya panggung sendiri ketika meresitalkan puisinya. Bisakah semua itu dicontek habis-habisan oleh penyair lain yang datang setelah dia? Tidak. Chairil tidak akan lagi menulis sajak soal pesawat-pesawat yang berjatuhan. Chairil sudah mati. Tidak perlu membayangkan sajak seperti apa yang ditulis Chairil jika kita hanya ingin menemukan orisinilitas kita saat ini, bukan?

Kau bertanya juga soal Wiji Thukul. Saya kira juga menulis sajak protes yang lembut. Dia tidak berteriak. Dia menghantam pelan-pelan. Ketika bicara soal kemiskinan, dia datang ke depan penguasa tidak dengan spanduk dan yel-yel. Dia datang dengan beberapa orang miskin yang amat dia kenal. Lalu dia tunjukkan mereka yang miskin itu kepada penguasa. Dia perkenalkan satu per satu. Lembut, menghantam pelan-pelan, dan hantaman itu tak pernah berhenti. Menakutkan. Mungkin itu yang ditakuti oleh penguasa hingga dia dihilangkan. (Wiji Thukul, semoga kebaikan selalu dilimpahkan atasmu) Saya melihat kelembutan protes itu setelah membaca banyak sajak-sajaknya. Thukul sering disederhanakan dengan kutipannya yang amat masyhur “hanya ada satu kata: lawan!”.

Penyederhanaan bisa salah. Pembaca yang malas, atau penyair yang malas bisa menerima begitu saja penyederhanaan itu. Akhirnya dia menerima apa yang disederhanakan itu sebagai sabda yang tak bisa dibantah.

Alur perkembangan dan pencapaian pengucapan dalam puisi Indonesia bisa disusun dengan berbagai model. Tergantung apa yang hendak dicapai kemudian oleh si penyusun alur itu. Jika sekadar menjajarkan kavling-kavling dan kemudian menemukan kesimpulan kavling telah penuh, buat apa? Kenapa percaya pada apa yang telah dipetakan orang lain? Kenapa tidak menyusun peta sendiri untuk keasyikan sendiri? Untuk menyusun batu pijakan bagi lompatan kita sendiri? Dengan demikian sajak-sajak Indonesia ditingkatkan harkatnya. Sajak-sajak karya penyair Indonesia menjadi terbaca, tergali, dan ditemukan permata yang tersembunyi di dalamnya. Dan yang lebih penting lagi, dari pekerjaan mengakrabi sajak-sajak karya penyair terdahulu itu, akan tampak kemungkinan-kemungkinan menemukan pengucapan baru, akan lahir sajak-sajak baru yang tidak sekadar mengulangi sajak-sajak yang sudah ada.

Kita tidak perlu banyak penyair yang mengemis pengakuan dan minta dianggap sebagai pembaharu. Buat apa? Kita juga tidak perlu banyak memberi pengakuan kepada banyak penyair. Siapa pula kita ini? Kita perlu sebanyak-banyaknya penyair yang rajin mengolah bahasa, mencari kemungkinan-kemungkinan kreatif dalam bahasa Indonesia, membuka jalan baru untuk menyegarkan bahasa, dan menggarap tema-tema kehidupan aktual agar orang-orang yang terbungkam merasa terucapkan rintih hatinya. Kita perlu banyak sajak yang menyegarkan bahasa, sastra, dan kehidupan kita. Pengakuan akan teranugerahkan dengan ikhlas kepada penyair yang dengan ikhlas berkarya.

Penyair harus berterima kasih kepada para peneliti sastra. Para peneliti sastra perlu berterima kasih kepada penyair. Kritik dan apresiasi beranjak dari karya sastra. Tak ada kritik dan apresiasi tanpa karya sastra. Penyair pun bisa memakai atau tidak memakai hasil telaah para akademisi untuk mengukur apa yang telah ia capai.

Memang, menjadi pembaharu itu penting. Menciptakan tonggak itu juga penting. Penyair kan memang harus peduli apa saja. Termasuk pada karyanya. Termasuk pada apa kata orang tentang karyanya. Peduli, bukan berarti mengandalkan itu saja sebagai satu-satunya pertimbangan untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu karya-karyanya.

Soal kritik yang juga engkau tanyakan saya katakan padamu bahwa bila ada penelaah berdebat sebuah karya sastra, bukan berarti keduanya sedang beradu unggul menganggap diri paling tahu tentang karya itu. Mereka sedang memperkaya tafsir atas karya itu. Mereka sedang membuka banyak jalan untuk masuk ke karya itu. Jalan yang mungkin tak pernah terpikir oleh si penyair sendiri. Sebaiknya, si penyair memang diam saja, ketika dua penelaah merayakan tafsir atas karya itu. Dia tentu saja boleh bicara tentang karyanya, dan dia pasti tahu banyak ihwal kelahiran puisi yang ia kandung. Tapi tentu saja ia tak boleh menganggap dia penguasa dan penafsir yang paling benar atas karyanya.

Seperti banyak ilmu-ilmu lainnya, ilmu kesusastraan sempat (mungkin masih) diragukan apakah dia bisa dianggap sebagai ilmu. Keraguan itu tentu sudah dijawab oleh para peletak dasar teori kesusasteraan. Teori-teori sastra tentu berguna untuk menelaah karya sastra. Penyair harus bergembira kalau karyanya ditelaah. Tetapi penyair jangan menjadikan itu sebagai satu-satunya tujuan berkarya. Biarlah semuanya terjadi dengan wajar dan alamiah. Jika memang sebuah karya menarik untuk ditelaah, maka penelaah sastra pasti akan menelaahnya dengan teliti dan penuh gairah. Telaah sastra pun tidak harus dilakukan seperti sekelompok dokter bedah sedang berada di ruang operasi bedah jantung: tegang, serius, fatal, dan berpeluh. Telaah sastra sesekali boleh saja dilakukan seperti sebuah pertunjukan ringan: riang, mencerahkan, dan menyenangkan. Hidup ini banyak sisi-sisinya, bukan?

Maaf, jika suratku kali ini terlalu panjang. Tapi sepanjang inipun rasanya masih ada pertanyaanmu yang belum saya jawab. Tolong ingatkan lagi mana ertanyaan yang engkau masih perlu penjelasannya, apabila memang engkau masih memerlukan jawabanku. Saya terus sarankan, engkau cobalah juga bertanya pada orang lain. Kenapa? Mungkin saja ada jawaban saya yang tak benar. Mungkin ada jawaban dari orang lain bisa memperbaiki apa yang salah dari jawaban-jawabanku.

Untuk itu, saya katakan terima kasih padamu.

Salam,

Hasan Aspahani

Satu pemikiran pada “Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s