Bahasa Baku atau Tak Baku? Apa Soalnya?

Bahasa Baku atau Tak Baku? Apa Soalnya?Oleh Hasan Aspahani
ADA sistem yang dibayangkan ideal. Sempurna. Teratur. Tetap. Ajek. Ada pelaksanaan dari sistem itu, yang merujuk pada sistem yang ideal itu, yang berhasrat mencapai kesempurnaan, tapi ia tak pernah sempurna. Selalu ada gangguan, distorsi, penyimpangan, sengaja atau tidak. Sadar atau tidak.

Begitulah bahasa. Khususnya bahasa modern. Tata bahasa, kamus besar, pembakuan ejaan, adalah upaya menyusun sistem ideal. Yang sempurna. Itulah wilayah ‘langue’ yang disebut de Saussure. Kita para pemakai memakai dalam berbagai ragam. Formal, akademik, informal. Itulah “parole”.

Negara lewat otoritas bahasa dan lembaga akademik, juga media yang peduli, bekerja banyak untuk mengelola sistem itu. Ingat berapa kali ejaan dalam bahasa Indonesia berganti? Itulah upaya menyempurnakan sistem, mengidealkan ‘langue’ itu.

Sistem dalam ‘langue’ itu tak pernah memaksa. Ia menjaga kesepakatan. Ya, bahasa, kata-kata itu kesepakatan antarpemakai. Parole itu juga kesepakatan antaranggota dalam kelompok pemakai. Bahasa ‘salon’ misalnya. Itu parole orang-orang salon.

Parole, varian sistem dalam ranah pemakaian, selalu bisa dikembalikan ke sistem langue. Kita menyebutnya bahasa baku dan tak baku. Itu bukanlah penghakiman. Bukan soal berbahasa dengan salah atau benar. Toh di dalam kepala para pemakai parole itu bekerja sistem langue juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s