Surat untuk Seseorang yang Bertanya tentang Puisi (4)

Salam sejahtera senantiasa terlimpah atasmu,

Terima kasih atas surat-suratmu, atas pertanyaan-pertanyaanmu yang bertubi-tubi. Saya suka pertanyaanmu karena itu adalah juga pertanyaanku dulu. Engkau bertanya pada orang yang tak salah, maksud saya bukan karena saya yang paling tahu jawabanmu, tapi saya suka engkau bertanya begitu. Jawabanku kuharap tak membuatmu berhenti bertanya. Tapi jawaban terbaik adalah dengan menjawab sendiri dengan puisi-puisimu. Jawabanku kuharap cukup memberi sedikit bantuan. Semacam petunjuk ke arah pintu dan engkau sendiri yang harus membuka dan memasukinya.

Engkau bertanya kenapa kita menyukai sajak? Kenapa kita membaca dan menulis sajak? Mestinya ini pertanyaan yang aneh. Karena saya pernah ingat kritikus sastra Prancis Charles Augustin Sainte-Beuve (1804 – 1869) pernah mengatakan bahwa dalam diri setiap manusia ada jiwa penyair, yang keburu mati muda.

Artinya, ketika kita mulai menyukai sajak lagi, ketika kita ingin bisa menulis sajak, ketika kita ingin tahu banyak tentang sajak, sebenarnya yang terjadi adalah si penyair yang mati muda dalam diri kita itu hidup dan bangkit kembali. Saya lebih percaya, bahwa penyair dalam diri itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya mati suri. Ia seperti putri molek yang tengah tertidur dan menanti kecupan seorang pangeran tampan untuk bisa bangkit sadar lagi. Saya percaya, anak kecil adalah penyair yang luar biasa. Sambil mengumpulkan kata-kata yang pertama, anak kecil belajar mengucapkan sajak-sajaknya yang pertama.

Kematian penyair dalam diri kita itu bisa jadi terbunuh oleh kemalasan kita untuk mencari pengucapan baru. Memang kita bukan anak kecil lagi. Anak kecil selalu mencari dan belajar mengucapkan apa saja: lapar, haus, panas, dingin, sepi, bosan dan bayi mengucapkan dengan berbagai cara yang bisa ia temukan. Keinginan untuk mencari dan menemukan pengucapan itulah yang mestinya dipertahankan dari bayi dalam tubuh dewasa kita.

Kebangkitan sang penyair mati suri dalam diri manusia penyair bisa terjadi dalam beragam peristiwa. Sang pangeran pencium itu bisa datang karena kejadian sepele, atau lewat sentuhan sajak penyair lain.

Saya mau ceritakan padamu tentang Wystan Hugh (W.H.) Auden (lahir di Birmingham, 1907 – meninggal di Wina 1973). Pada suatu hari di tahun 1922, ia sedang berjalan bersama seorang kawan sekolahnya yang kelak menjadi pelukis. Sang teman tiba-tiba bertanya, “Kamu pernah menulis puisi?” Auden menjawab, “tidak.” Temannya kembali bertanya, “Kenapa tidak?” — sejak itu Auden memutuskan untuk menulis puisi. Sebelumnya penyair yang teguh menyajak dalam bentuk tetap itu, cuma punya satu keinginan: menjadi ahli pertambangan atau geologis. Semasa kanak, permainannya pun main tambang-tambangan. “Menengok lagi ke masa lalu, saya merunut bagaimana dasar dari keputusan itu sudah tertata sebelumnya,” kata Auden dalam wawancara yang pernah saya baca di rubrik The Art of Poetry, majalah Paris Review.

Keterpikatan pada puisi kadang terjadi bagai berasal dari alam bawah sadar. Menyesap seperti virus ke dalam tubuh lalu berkembang biak. Itulah yang sepertinya terjadi pada penyair Joko Pinurbo (lahir di Sukabumi, 1962). “Lupa persisnya. Mungkin terjadi di bawah sadar. Tapi antara lain karena tergetar oleh baris sajak Sapardi: “masih terdengar sampai di sini/dukaMu abadi”. Gila betul itu kekuatan bahasa puisi,” kata Jokpin, nama akrab penyair yang kini menetap di Yogyakarta itu. Jokpin membaca sajak daari buku pertama Sapardi Djoko Damono itu semasa SMA. “Saya baru baca DukaMu Abadi waktu SMA, baca di sekolah, lalu cari bukunya,” kenang Jokpin.

Saya kira, keterpikatan pada puisi bisa juga datang dari rasa kecewa. Saya mau sampaikan padamu cerita lain. Cerita penyair favorit saya: Sapardi Djoko Damono (lahir di Solo, 1940), yang sajaknya memikat Jokpin tadi.

Beliau menceritakan adanya sebuah kekecewaan sebelum akhirnya rasa itu lunas terbayar oleh sajak. Dalam buku “Sihir Rendra, Permainan Makna” cerita itu ia paparkan. Waktu SMP, Sapardi pertama kali mengirim karangan berupa cerita ke majalah kanak-kanak berbahasa Jawa. Cerita itu ditolak, dengan penjelasan: cerita itu tidak masuk akal. Itulah kekecewaan Sapardi kala itu. Cerita yang ia kirim adalah kejadian yang nyata ia alami. Meski kecewa, Sapardi tetap membaca, meminjam dari persewaan buku dan dari perpustakaan di sekolah. Membaca apa saja. Novel yang mengharukan, dan cerita pendek. Sapardi pun kala itu mulai membaca sajak modern yang membuat dia merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.

“Saya tidak pernah merasa bisa menangkap makna sajak-sajak itu sepenuhnya, namun terasa bahwa apa yang pernah gagal saya tulis menjadi cerita dulu itu membayang dalam beberapa di antaranya,” tulis Sapardi. Keinginan untuk mengungkapkan apa yang dialaminya di masa kecil yang dianggap oleh redaktur majalah anak-anak itu sebagai yang “tidak masuk akal” muncul kembali.

Dari situlah bermula kepenyairan Sapardi. Puisi membuat apa yang tidak masuk akal itu menjadi bisa diterima. Pada umur belasan tahun ia menulis puisi seperti tak pernah henti, seperti ingin lekas melunasi semua kecewa dulu, sambil menikmati keasyikan sendiri. Apa yang dicap sebagai “tidak masuk akal” bermunculan dalam kata-kata puisinya.

Cobalah mengenang lagi, bagaimanakah caranya hingga sajak sampai padamu? Saya sudah ceritakan itu padamu di surat pertamaku. Sekarang giliranmu bercerita bagaimana sampai sajak memikatmu? Bagaimana caranya engkau “terperangkap” dalam jerat pesona sajak? Ceritakanlah. Aku menunggu ceritamu. Menunggu suratmu.

Hasan Aspahani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s