Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (3)

Salam sejahtera juga atasmu,

Saya mohon maaf karena baru sempat membalas suratmu. Beberapa hal harus saya kerjakan dengan perhatian penuh. Bukan berarti suratmu tak penting tapi kita memang harus menyusun prioritas bukan? Dan itu naluriah banget, hal-hal yang harus didahulukan serta-merta tekerjakan lebih dahulu.

Memang, puisi pada hakikatnya adalah jalan sunyi. Hal-hal yang mudah sekali terabaikan. Ya, benar, memang begitu. Dulu majalah Horison, di awal tahun 1970-an saya kira, pernah menulis semacam keluhan atau kecemasan, bahwa sastrawan Indonesia tak bernapas panjang. Muncul dengan karya yang menarik, menulis beberapa tahun, lalu menghilang. Sempat menerbitkan satu dua antologi lalu sama sekali berhenti.

Engkau bertanya soal itu juga. Engkau bertanya bagaimana menjaga gairah agar tetap terus menulis puisi. Saya kira tiap orang punya cara berbeda-beda untuk itu. Cobalah bertanya pada beberapa penulis yang dengannya engkau bisa berkomunikasi.

Bagiku, caranya adalah saya tetap ingin berada dalam situasi seperti bagaimana dulu saya tertarik pada puisi. Ya, seperti yang kusebutkan dalam suratku yang pertama dulu: terpesona pada puisi.

Ada dua hal bagi kita yang membuat kita tertarik pada sesuatu: bakat dan minat. Bakat bagiku adalah kemampuan bawaan, yang diberikan Tuhan, yang dengannya kita bisa menguasai sesuatu dengan lebih mudah. Orang yang berbakat olahraga akan lebih mudah menguasai keterampilan teknis berolahraga ketimbang orang yang berbakat musik, atau sebaliknya. Itulah bakat menurutku.

Lalu apakah minat? Minat adalah ketahanan seseorang untuk bertahan mempelajari, mengembangkan, dan menikmati sesuatu sampai ia benar-benar merasa menguasai benar segala hal-ihwal terkait hal yang ia geluti itu. Banyak hal yang bisa mengalihkan minat kita dari apa yang sebenarnya kita punya bakat besar di situ.

Penting sekali dua hal itu: menyadari bakat kita dan menjaga minat kita untuk terus bergiat mengembangkan bakat kita itu.

Saya mau sampaikan padamu bahwa kini saya menyadari bahwa ternyata bakatku di dunia puisi tak besar-besar amat. Tapi saya bersyukur bawah minat saya pada hal-hal terkait pekerjaan menulis tak pernah surut. Rasanya selalu ada semacam pencapaian yang bisa saya raih yang sebenarnya bisa saja membuat saya berpuas diri dan berhenti tapi nyatanya itu malah menawarkan tantangan baru. Saya selalu disergap pertanyaan: benar hanya sebegini targetmu? Benar engkau mau berhenti sampai di sini? Minat yang terus tumbuh itu mengatasi bakatku yang cekak.

Saya memperkaya diri dengan hal-hal yang membuat saya terus mencintai dan betah di dunia puisi. Saya membangun perpustakaan kecil, melengkapi buku-buku puisi dari penyair yang saya gemari, yang diam-diam saya curi jurus-jurusnya. Iya, betul, mencuri. Itu akan saya jelaskan nanti kalau kamu penasaran.

Untukmu kusarankan, lakukanlah juga hal-hal yang membuatmu terus-menerus berada dalam lingkungan kecil yang menyenangkan untuk terus bergelut-senda dengan puisi. Saya lihat bakatmu besar, ya saya yakin benar, lebih besar dari bakatku dahulu ketika saya memulai perjalanan di dunia puisi ini.

Engkau bertanya sampai kapan saya menulis. Apakah saya pernah berpikir untuk berhenti menulis? Jawabanku atas pertanyaanmu itu akan menghakhiri suratku kali ini.

Saya pasti akan berhenti menulis, antara lain karena kematian yang tak tertolak itu. Kulihat engkau menanyakan itu dengan cemas. Saya tak cemas jika karena satu dan lain hal saya harus berhenti menulis, sebelum dihentikan kematian. Saya ingin terus menulis, bila mungkin, dan saya terus berusaha memungkinkan itu. Sejauh ini saya tak pernah cemas, juga tak cemas ketika selama beberapa bulan bahkan hampir satu tahun sama sekali tak menulis puisi.

Yang penting adalah – seperti yang dikatakan penyair besar kita Sutardji Calzoum Bachri – kita menyadari bahwa menyair adalah suatu pekerjaan serius. Tapi dia katakan penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja.

“Tapi bila kau sedang menulis sajak, kau harus melakukan secara bersungguh-sungguh, seintens mungkin, semaksimal mungkin,” begitu katanya. Saya kutip nasihatnya itu karena saya setuju dan tak punya yang lebih baik.

Sekian dulu suratku kali ini.

Menulislah terus, selain surat untukku – kalau masih mau mengirimkannya – juga yang penting adalah menuliskan puisi-puisimu.

Hasan Aspahani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s