Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (2)

Salam sejahtera juga selalu untukmu,

Pertanyaanmu kali ini harus saya jawab dengan membongkar banyak catatan. Tapi, saya kira ini memang sesuatu yang harus ditanyakan. Tampaknya pertanyaanmu itu sederhana, “bagaimana saya sebagai seorang penyair melihat hubungan bahasa dan puisi?” Dan saya benar-benar harus menjawab dengan sangat berhati-hati. Terus-terang itu karena saya ragu dengan setiap jawaban yang hendak saya tuliskan.

Saya ingin memulai dengan menyorongkan fakta ini, bahwa para ahli bahasa meyakini manusia, khususnya sapiens, telah mengembangkan bahasa yang kini menjadi bahasa-bahasa di dunia sejak 200.000 tahun lampau.

Dan kita hari ini hidup – berbicara, menulis – dalam bahasa Indonesia, bahasa yang sangat muda. Secara politis kesadaran untuk menerima dan memberi nama bahasa percakapan yang luas dipakai di kepulauan Nusantara ini sebagai bahasa Indonesia baru dipernyatakan dengan gagah pada 1928, bukan? Engkau tentu tahu apa arti Sumpah Pemuda itu bagi kita.

Coba engkau bandingkan, bahasa Ingris mulai berkembang sejak 1.500 tahun yang lalu. Bahasa Sanskerta telah ada sejak abad ke-5 sebelum Masehi. Bahasa Latin sudah ada sejak Abad ke-8 sebelum Masehi, dan kini resmi dianggap tak dipakai lagi sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Bahasa Arab sudah ada sejak Abad ke-4. Bahasa Tionghoa? Berkembang sejak Abad ke-11 sebelum Masehi.

Begitulah, bahasa berevolusi. Untuk bahasa Indonesia dengan perkembangan secepat dan sepesat ini, barangkali bisa dikatakan yang terjadi adalah revolusi bukan evolusi.

Apa artinya fakta-fakta itu? Apa hubungannya dengan bahasa Indonesia kita dan sikap saya sebagai penyair terhadap bahasa? Mari saya jelaskan dan aku harap kamu setuju dengan hal ini.

Pertama, tidak ada yang memaksa kita menulis dalam bahasa Indonesia. Kita boleh menulis dalam bahasa apa saja yang kita kuasai. Tapi jika kita ingin menulis memakai bahasa Indonesia maka akrabi dan pakai tata aturannya. Sadar atau tidak, engkau bersepakat dengan tata aturan bahasa itu, bukan?

Kedua, karena bahasa kita, bahasa Indonesia ini adalah bahasa yang muda maka seperti bahasa muda lainnya, ia menerima pengaruh dari bahasa yang lebih tua. Menerima pengaruh itu yang paling jelas terasa adalah serapan kata-kata dari bahasa lain. Kenapa? Karena kita memerlukan kata itu dalam bahasa kita, bersama kita menerima benda, makanan, konsep, cerita, ajaran, atau produk bermacam kebudayaan lain yang kita serap bersamanya.

Ketiga, kelak jika engkau menulis puisi dengan intens, engkau akan berada pada situasi kesulitan mencari kata yang tepat untuk hal yang hendak engkau sampaikan dalam puisimu. Jangan salahkan dirimu, juga jangan salahkan bahasa Indonesia kita itu. Bisa jadi engkau memang tak kenal tapi sesungguhnya kata itu ada, atau memang kata itu belum ada. Maka, cobalah ciptakan kata baru itu. Mungkin dengan mengadopsi kata dari bahasa lain, bahasa asing atau bahasa daerah yang engkau tahu. Bolehkah begitu? Boleh. Engkau dengan demikian sedang mengusulkan kosakata baru. Sebagai usulan tentu saja kelak bisa ditolak atau diterima dan disepakati. Chairil Anwar melakukannya, Goenawan Mohamad dan beberapa penyair lain juga melakukannya. Menyair, saya percaya, adalah usaha membuka jalan ke masa depan bahasa.

Keempat, ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia, menyumbangkan karya kita memperkaya khazanah puisi Indonesia, maka kita dengan demikian masuk dan menjadi bagian dari sejarah bahasa dan sastra Indonesia, bahasa yang tumbuh, menyebar, berkembang dari bahasa Melayu Riau itu. Kita sedang ikut mengembangkannya. Soal ini akan saya jelaskan di surat berikutnya.

Rasanya kali ini sudah terlalu panjang suratku. Aku khawatir engkau bosan karena jawabanku justru semakin jauh hal yang engkau tanyakan.

Salam sejahtera,
Hasan Aspahani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s