Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (1)

Salam sejahtera juga untukmu,

Terima kasih engkau sudah mengirim surat padaku, dan menanyakan tentang hal itu: puisi. Saya merasa terhormat, karena dengan begitu saya merasa engkau percaya dan menaruh harapan akan mendapat jawaban dariku. Akan tetapi dengan begitu juga saya merasa cemas, jangan-jangan saya tak bisa memenuhi harapanmu. Apapun, engkau sudah bertanya dan saya akan berusaha menjawab semampu saya.

Apa arti puisi buatku? Engkau bertanya begitu. Saya tak yakin. Tapi mungkin pesona. Saya sejak mulai bisa membaca menemukan puisi di banyak tempat, di buku pelajaran bahasa di sekolah berupa pantun jenaka di sekolah dasar, di buku-buku dari proyek pengadaan buku Inpres, hingga beberapa puisi modern di pelajaran SMP dan SMA. Bahwa bahasa dipelajari di sekolah dan di sana puisi menjadi bagian dari pelajaran itu tentu para penyusun kurikulum meyakini bahwa pelajaran itu penting, bukan?

Sewaktu SD dan SMP itu pula saya membaca puisi di majalah anak-anak. Tepatnya menumpang baca. Sahabat kecil saya, anak seorang guru berlangganan Bobo, Tomtom, dan Ananda, beberapa majalah anak-anak yang bagus. Saya juga membaca koran-koran akhir pekan, koran bekas di warung seorang pensiunan polisi tetangga kami. Saya membaca banyak hal di koran-koran bekas (Kompas, Surabaya Post, Sinar Harapan, dan kadang majalah Mutiara) kolom, berita, karikatur, cerpen, juga puisi.

Saya juga membaca puisi dari nama-nama yang tak saya kenal di majalah-majalah remaja yang saya baca ketika saya remaja, terutama majalah Gadis yang dilanggan kakak sepupu saya, dan majalah HAI yang saya beli sendiri ketika saya SMA. Artinya, puisi tak hanya ditulis oleh orang dari masa lalu di buku pelajaran bahasa itu. Begitu kesan saya, padahal, nama Rendra, Sapardi Djoko Damono, adalah orang-orang yang saat saya baca masih sehat walafiat.

Setiap kali melihat teks dengan tata letak yang khas, tipografi yang berbeda itu mata saya akan singgah lebih dahulu di situ. Saya terpesona dan ingin menikmati pesona itu lebih lama. Tentu saja saya tak pernah bisa memahami benar apa yang tertulis di teks yang bernama puisi itu. Tapi saya tak bisa mengelak dari pesonanya. Mungkin itu pelajaran pertama saya tentang puisi: kita tak perlu paham untuk terpikat pesonanya.

Ya, puisi kala itu – apa yang kini baru saya sadari – adalah bahasa yang disusun sebegitu rupa sehingga bisa memikat perhatian saya, membuat saya terpesona padanya. Saya tak pernah bisa menjelaskan kenapa pesona itu bisa muncul atau terasa dalam diri saya, tapi saya terus teryakinkan, bahasa lewat puisi bisa dibikin begitu. Dan saya ingin melakukan itu. Bahasa yang saya baca dalam puisi-puisi yang saya baca kala itu adalah bahasa yang saya kenal. Adalah juga bahasa saya. Meskipun kadang ada kata yang tak saya paham.

Saya merasa harusnya saya juga bisa menulis puisi, membuat satu teks tentang sesuatu dengan bahasa biasa tapi dengan cara tertentu, cara yang kelak saya pahami sebagai perangkat puitika, dan dengan cara itu bisa membangkitkan pesona.

Dan saya mencoba melakukannya. Saya menulis puisi ketika saya SMP. Puisinya masih saya simpan. Polos dan naif. Tak banyak. Ada puisi tentang ketabahan induk ayam ketika anaknya disambar elang, peristiwa nyata yang saya saksikan di kampung saya. Dan itu adalah ayam peliharaan saya sendiri. Ada juga renungan tentang tanggung jawab seorang pemimpin, aha, yang saya tulis ketika saya terpilih jadi ketua OSIS. Sekali lagi polos dan naif.

Apakah saya berhasil menghadirkan pesona di teks yang saya niatkan sebagai puisi itu? Tidak. Saya merasa gagal. Tapi bukan karena itu saya berhenti menuliskannya. Perhatian seorang anak kampung seumur saya di kala itu lumrah saja terpecah pada banyak hal. Saya suka menggambar kartun, menempa tanah liat jadi berbagai model, memancing ikan sembilang, membuat ketapel, dan ikut musim permainan anak-anak kampung. Kalau lagi musim kelereng ya main kelereng, musim layangan ya ikut layangan.

Tapi saya tak pernah berhenti membaca. Mungkin itu yang terus-menerus membuat saya tak pernah lepas dari pesona puisi. Sampai hari ini rasanya itu terus saja terjadi pada saya, saya selalu terpesona pada puisi yang baik. Tentu saja saya kemudian belajar atau berusaha terus mempermampukan diri untuk menjelaskan kenapa pesona itu bisa ada, kenapa satu puisi bisa lebih memesona yang lain terasa hambar saja.

Nah, saya sudah menjawab. Saya tak tahu apakah ini jawaban yang engkau butuhkan.

Saran saya, cobalah bertanya juga pada sebanyak-banyak orang yang menurutmu dari padanya engkau akan mendapat jawaban yang berbeda bahkan lebih baik dari jawaban saya ini.

Salam,
Hasan Aspahani

Satu pemikiran pada “Surat untuk Seseorang yang Bertanya Soal Puisi (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s