Tempat-tempat di Mana Sekarang Saya Ingin Sekali Berada di Sana

SAYA ingin berada
di bengkel mobil
mematuhi jadwal ganti oli
atau mengecek daya aki
dinginnya AC
saringan udara pada mesin
menunggu sambil berbincang
dengan petugas tentang
persoalan mekanik
dan elektrik
pada mobil otomatik
dan tip-tip menghadapi
jalan kota yang banjir
yang mengapungkan kekonyolan
dan menenggelamkan kewarasan.

“Jangan berhenti
di tengah genangan itu.
Jalan saja terus.
Akan ada yang rusak,
tapi itu tak seberapa,
karena jika kita
diam dan mematikan mesin
kita mungkin akan kehilangan
atau membiarkan kerusakan
yang tak tertanggungkan.”

Lalu saya pulang dari sana
dan melewati tempat yang
mengingatkan saya bahwa
saya pun sangat ingin berada
di sana.

*

Saya ingin berada di
pasar Pospengumben, menyinggahi
los sayur dan ikan segar,
membeli gula aren, jamur,
sementara istriku menunggu
ayam dipotong delapan, dan
ikan tengiri dibersihkan,
membeli ketupat plastik,
timun dan bumbu giling,
juga cabai dan bawang.

Atau kelapa parut
dan santan.

Tadi kami sudah
berembuk hendak memasak apa:
opor, dan gulai
ayam masak pedas,
sambal lingkung,
dan rendang. Es buah
dengan longan kalengan.
(biasanya) made in Thailand.

Apa yang membuat
saya teringat
pada tempat lain,
tempat di mana
saat ini saya sangat ingin
berada di sana.

*

Saya ingin berada di hadapan
sepasang makam. Berziarah,
membaca surah Yasiin,
dan doa arwah. Dan kata-kata
ini kuucapkan dalam hati,
(atau hanya dalam puisi ini),
“Mama, Abah, cucu pertama
kalian tahun depan wisuda.
Nilai-nilainya bagus.
Kami ingin Abah dan Mama
nanti hadir di sana,
mendengarkan namanya disebutkan
dengan gelar sarjana.”

Saya tak bisa berjanji
bahwa nanti
saya tak menangis.
Dan tangis itu akan
mengingatkan saya
pada suatu tempat di mana
saya ingin sekali
berada di sana.

*

Saya ingin berada
di masjid komplek
perumahan kami di Batam
sehabis salat tarawih
lalu bersama takmir
menghitung uang infak
sambil mendengarkan anak-anak
menamatkan tadarus Quran
dan meninjau lagi
daftar penceramah
dan tokoh undangan
yang sudah disusun
dan mencoret nama-nama politisi
yang hanya datang pada
masa kampanye, tapi kini
tak bisa dihubungi
untuk diminta konfirmasi
memastikan kehadiran.

Lalu kami menandatangani
lembar laporan hasil
perhitungan, menyerahkan
ke bendahara masjid, dan itu
membuat saya teringat
pada tempat lain di mana saya
ingin sekali berada di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s