Sapardi : Kata-kata adalah Segala-galanya dalam Puisi

Sapardi Djoko Damono: Kata-kata adalah Segala-galanya dalam Puisi
– Sebuah Wawancara Imajiner
Oleh Hasan Aspahani
Tanya: Pak saya mau menulis puisi. Apakah menulis puisi itu harus mengikuti kaidah? Atau menulis begitu saja?
Jawab: Kalau mau menulis, ya, menulis saja. Saya juga dulu begitu. Saya suka puisi karena saya membaca puisi. Bukan karena saya membaca teori sastra. Itu saya pelajari belakangan ketika saya kuliah.
Tanya: Jadi tak perlu memahami kaidah puisi dulu, Pak? Masa gitu sih, Pak?
Jawab: Bahkan setelah saya tahu teori pun ketika menulis saya menulis saja tanpa mengingat teori apa-apa.
Tanya: Tapi saya ingin memulai dengan bekal yang cukup, Pak. Mungkin dengan begitu saya bisa lekas jadi penyair hebat.
Bersama SDDJawab: Kamu serius? Baiklah. Kamu mulai dengan menyadari apa fungsi kata dalam puisi. Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dngan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan, namun yang utama adalah sebagai obyek yang mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata yang bukan-puisi.
Tanya: Kenapa harus dibedakan, Pak?
Jawab: Kamu mau menulis puisi, bukan? Sebenarnya saya menulis itu di tahun 1969, setelah saya mengamati puisi yang ditulis pada tahun-tahun itu. Dan saya bosan. Kedua peran itu rupanya tak dipahami benar oleh penyair muda pada masa itu. Saya kira juga oleh sebagian besar penyair muda hari ini. Mereka apa pernah baca esai saya itu?
Tanya: Memangnya apa yang terjadi pada waktu itu, Pak?
Jawab: Mereka mendengar kata dan kata setiap hari lewat radio, di balik tembok-tembok sekolah, di pasar dan toko, dan membaca di koran-koran, dan kemudian mendapatkan kata-kata yang sama dalam puisi dan oh betapa membosankannya, bukan? Kalau kata-kata, idiom-idiom, serta kalimat-kalimat yang kita dapati dalam puisi sama sekali tak berbeda dengan yang kita dapati sehari-hari, maka rasa bosan adalah sah. Itu yang saya rasakan ketika dulu pada tahun-tahun itu saya membaca sajak yang ditulis penyair Indonesia.
Tanya: Jadi bagaimana caranya menulis supaya puisi tak membosankan, Pak?
Jawab: Sadarilah bahwa puisi itu unikum, hasil pengamatan yang unik seorang penyair. Hal di atas tak bisa tercapai kalau si penyair dengan tenang saja mengoper kata-kata yang bertebaran di sekelilingnya, tanpa menyesuaikannya dengan dunianya yang baru, yang unik.
Tanya: Tapi kan kata-kata dalam bahasa kita itu ya itu-itu saja, Pak?
Jawab: Maka tugas utama penyair, tugas terberat adalah melawan kata-kata, untuk bisa menguasainya kemudian memurnikannya dan memberinya bobot. Kata-kata begitu pentignya sehingga apabila kita mencobanya mengganti satu dua di antaranya dengan sinonimnya, seketika itu juga sajak tersebut berhenti sebagai sajak. Dalam bahasa sehari-hari, dan dalam prosa umumnya, sinonim masih bisa diterima, tanpa merusak maksud atau arti sebab di situ tugas utama kata-kata adalah sebagai penghubung antara pembaca atau pendengar dengan ide.
Tanya: Bukankah puisi itu juga menyampaikan ide, Pak?
Jawab: Tapi kata tetap harus dinomorsatukan. Ketidaktahuan atau mungkin sikap acuh tak acuh, terhadap peran kata-kata inilah yang telah menghasilkan sajak-sajak membosankan, dari masa ke masa. Kalau penyair menganggap bahwa yang utama adalah ide, dan kata-kata dengan demikian menduduki tempat kedua maka ia pun tak menciptakan puisi tetapi memberi anjuran, pernyataan, atau keterangan.
Tanya: Saya belum paham, Pak. Bingung saya harus mulai menulis dari mana.
Jawab: Makanya, kan tadi sudah saya bilang, kalau mau menulis ya menulis saja tak perlu memikirkan teorinya.
Tanya: Oh, begini, Pak. Saya mulai paham maksud Bapak. Misalnya saya punya ide, gagasan, atau pikiran, lalu saya ingin menyajakkannya, maka saya harus mencari cara yang unik untuk mengungkapkannya?
Jawab: Ya. Saya mau kasih kutipan dari Saini K.M., dia katakan: puisi, di samping yang lain-lain, meminta kemampuan kepada kita untuk menyodorkan atau menuliskan pengalaman dengan cara tertentu.
Tanya: Maksudnya ‘cara tertentu’ itu apa, Pak?
Jawab: Nah, itu kalau yang dimaksud ‘cara tertentu’ itu adalah ‘cara puisi’ bukan cara yang lain maka saya setuju dengan dia. Tanpa cara tertentu itu maka kata-kata dalam puisi tak mempunyai peran yang berarti. Yang tertinggal di benak pembaca setelah membaca sajak yang demikian adalah idenya, atau apapun itu namanya, dan bukan suasana tertentu yang hanya bisa timbul dari kata-kata tersebut.
Tanya: Cara puisi itu bagaimana, Pak?
Jawab: Akan sangat panjang penjelasannya. Perlu kuliah beberapa semester. Kamu bisa baca buku-buku teori yang sekarang mudah sekali didapat. Saya tak punya waktu untuk menjelaskannya, dan kalau pun ada, kamu pasti akan semakin bingung harus memulai dari mana. Dan kapan kamu mau nulis puisinya?
Tanya: Jadi sebenarnya menulis puisi itu perlu kaidah atau tidak, Pak?
Jawab: Kalau kamu tertarik, menulislah. Tanpa memikirkan kaidah puisi itu apa dan bagaimana. Ikuti saja intuisimu. Baca puisi yang baik sebanyak-banyaknya, kamu menyukai puisi karena tertarik pada teorinya atau karena terpesona pada puisi yang kamu baca? Pasti karena puisi yang kamu baca, kan? Nah, selanjutnya kalau kamu benar-benar mencintai puisi maka kamu harusnya akan mencari informasi lebih banyak tentang apa yang kamu cintai itu agar kamu bisa mencintai dan menggaulinya dengan lebih baik.
Diolah dari Esai Sapardi Djoko Damono “Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan” dalam “Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan” (Gramedia, 1983, Ed. Pamusuk Eneste).

Satu pemikiran pada “Sapardi : Kata-kata adalah Segala-galanya dalam Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s