Beberapa Kisah Kecil untuk Ananda Sukarlan

1. Pianis Kecil dan Piano Kecil

SEORANG pianis kecil bertemu dengan piano kecil. “Maukah kau bermain denganku?” tanya piano kecil itu.

Mereka pun asyik bermain. Pianis kecil menggelitikkan jari-jari kecilnya di bilah-bilah kecil piano kecil itu. Berderailah tawa kecil si piano kecil.

Kadang-kadang mereka bernyanyi-nyanyi kecil, sesekali terdengar senandung kecil, tangis kecil, aduh kecil, jerit kecil.

“SENANG sekali bisa bermain denganmu. Tapi, kamu sudah letih, ya?” tanya piano kecil. Si pianis kecil mengiyakan. Mereka pun berpisah. Di jarak yang merentang di antara keduanya mengembang sunyi.

Sunyi yang kecil.

 

2. Berapa Banyak Bunyi?

“BERAPA banyak bunyi yang kau simpan di bilah-bilah tubuhmu?” tanya pianis itu kepada piano.

“Tak ada. Aku tak punya bunyi. Aku hanya punya sunyi,” jawab si piano.

Si pianis pun sejak itu tahu, selama masih ada sunyi, maka dia dan piano itu bisa menciptakan bunyi setakterhingga banyaknya.

 

3. Sunyi dan Bunyi

SUNYI ingin sekali tahu siapakah sebenarnya Bunyi itu.

Bunyi juga ingin sekali kenal apakah sesungguhnya sunyi itu.

Mereka pun bertemu di sebuah piano dan bertanya pada seorang pianis yang tampaknya sangat mencintai piano itu.

“Ketika sunyi berkata maka jadilah bunyi. Ketika bunyi berdiam diri, ia menjelma jadi sunyi,” kata si pianis itu.

Piano pun dengan mahir menerjemahkan penjelasan itu.

“Oh, kami mengerti,” kata Sunyi dan Bunyi, serempak, “bunyi adalah sunyi. Dan sunyi adalah bunyi.”

 

4. Jemari Kecil dan Piano Tua

SETELAH menemui bunyi di mana-mana, menemui piano di banyak negara, Pianis itu pulang.

Ia menemui piano tua, piano yang dulu mengajari dan memperkenalkan berbagai bunyi pertama kali kepadanya.

“Aku membawakan bunyi untukmu,” katanya pada piano tua itu, “maukah kau, aku perdengarkan bunyi-bunyi itu padamu?”

Piano itu mengangguk, lalu dengan gairah seperti saat dulu ia pertama kali membunyikan sunyi di piano itu, dia mainkan sejumlah komposisi bunyi dari hatinya.

Piano tua itu menangis. “Kenapa kau menangis?” tanya pianis itu.

“Aku rindu pada jemari kecil yan dulu memainkan aku,” kata piano tua itu.

Air mata piano tua itu tiba-tiba seperti mengalir ke mata pianis itu. Air mata yang sunyi. Sangat sunyi.

 

5. Pianis Kecil Ingin Tidur

PIANIS kecil itu ingin tidur. Ia minta temannya mengantarkannya.

“Tidurkanlah aku,” katanya kepada temannya, Si Bunyi namanya.

Si Bunyi menyenandungkan diri, melirihkan diri, memerdukan diri.

Pianis kecil itu perlahan terlelap.

“Dia sudah tidur. Sekarang giliran engkau menjaga tidurnya,” kata Si Bunyi kepada temannya, Si Sunyi.

 

6. Piano yang Terbang

“AKU ingin terbang bersamamu,” kata Pianis kecil itu kepada piano. “Bunyikanlah aku. Nyanyikanlah lagumu pada sunyiku,” kata piano itu.

Pianis kecil itu lalu menarikan jemarinya, menarikan hatinya, menarikan pikirannya, menarikan gairahnya, menarikan kehidupannya pada piano itu.

Dia tidak tahu, pada saat itu ada sayap tumbuh, mengepak pada piano itu dan mereka – pianis dan piano itu – terbang ke langit, sunyi dan tinggi.

(2010)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s