Budi Darma: Sublimitas dan Kontemplativitas Puisi

Oleh Hasan Aspahani

ADA puisi-suasana, ada puisi-cerita. Saya kira keduanya adalah istilah yang khas dan paling cocok untuk melihat perkembangan puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Indonesia. Istilah itu muncul atas kebutuhan mengapresiasi puisi Indonesia.

Keduanya, masing-masing adalah padanan dari puisi-liris-imajis, dan puisi-balada-epik. Puisi-suasana, oleh Budi Darma dijelaskan sebagi puisi yang mengungkapkan suasana. Puisi-cerita mengungkapkan cerita.

“Karena itulah puisi suasana lebih banyak menuntut intensitas kata-kata, karena setiap kata dalam konteks keseluruhan puisi harus menimbulkan suasana,” ujar Budi Darma dalam diskusi digelar di Surabaya, pada 11 Juli 1972. Ia membentang makalah dalam diskusi Apresiasi Sastra Dewan Kesenian Surabaya itu.

Sebaliknya dalam puisi-cerita, pemakaian kata-kata lebih longgar krena peranan kata-kata yang utama adalah menyampaikn cerita. Dalam puisi-cerita kata-kata umumnya denotatif.

Kehadiran puisi bagi penikmat, apapun jenisnya, akhirnya sama saja, yaitu menantang pembacanya untuk melakukan petualangan jiwa (istilah yang dipinjam Budi Darma dari Anatole France), masuk ke dalam dunia puisi itu. Petualangan itu mengasyikkan apabila bisa membentuk suasana hati (puisi-suasana) dan menggugah perasaan dengan keharuan yang ditimbulkan oleh cerita (puisi-cerita).

Saya sarikan pemikiran Budi Darma dari tulisannya itu dalam beberapa butir berikut ini:

1. Yang kita harapkan dari puisi yang baik adalah sublimitas dan kontemplativitas. Keduanya pada dasarnya adalah hal yang diharapkan dan bisa didapatkan manusia dari bidang lain kehidupan sebagau usaha manusia untuk mengerti dirinya sendiri sebagai manusia.

2. Puisi sebagai bentuk sastra dapat menjadi sublim dan kontemplatif apabila puisi itu dapat menyentuh bawah sadar manusia dan apabila persentuhan itu terjadi maka kita dapat mengatakan bahwa puisi itu baik.

3. Puisi yang baik akan secara totalitas menyentuh totalitas bawah sadar manusia, dengan tidak memberi kesempatan adanya intervensi-intervensi statik, atau situasi yang menyeret ke arah diam atau buntu.

4. Usaha membaca puisi bisa terganggu oleh statik yang mengganggu keheningan dan kebeningan. Gangguan itu berupa tanggapan yang sudah tercadang (stock responses) dan pola-pola tanggapan yang tak relevan (mnemonic irrelevances), merujuk ke I.A. Richards, dalam “Practical Critism”.

5. Stock responses terjadi apabila sebelum membaca sebuah puisi seseorang sudah bersiaga dengan perasaannya sendiri, sehingga yang bicara padanya sebagian adalah dia sendiri dan bukan puisi yang dibaca.

6. Mnemonic irrelevance terjadi pada waktu membaca puisi seseorang terlibat pada pengalaman-pengalaman masa lampau sehingga puisi yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman pribadi ditangkap secara keliru.
Membaca puisi, melakukan petualangan jiwa itu, memasuki bentangan suasana dan mendpatkan keterharuan itu, akhirnya sama-sama membawa pada permenungan, pada soluliqui.

Budi Darma menyebut itu sebagai fragmen. Selamanya hanya fragmen yang tak pernah lengkap, tapi ajaibnya, puisi yang baik, tak membiarkan kenikmatan itu tuntas. Sebagai fragmen ia terus menawarkan proses pemaknaan yang tak pernah selesai.

Jakarta, 2 April 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s