Kudaku adalah Buku

Semulia-mulia tempat di dunia ini
ialah di atas pelana kuda tunggangan.
Dan sebaik-baik karib
di zaman ini ialah buku.

– Abu Tayyib Mutanabbi*

KUDAKU adalah buku,
membawaku jauh
berkelana tanpa pelana,
menyesatkanku
ke padang-padang
dan wadi kabilah asing
yang menerimaku
sebagai anak mereka

Kudaku adalah buku,
yang menemaniku berburu,
menyeberangi sungai deras,
menumpang kapal dagang,
menunggu malam dan aku
menyalakan unggun api, lalu
berdiang di sisi tenda.

Kudaku adalah buku,
membawaku pulang
ke rumah sederhana,
di dalam jiwa, dan
seseorang menunggu di situ
dengan sabar merawat segalanya
selama aku tak ada.

* Diterjemahkan oleh Mustamdi

Baca juga
Bintang dan Bahasa Cahaya
Bintang dan Bahasa Cahaya

KARENA bintang berbicara dalam bahasa cahaya maka dengarlah bisikan: nyanyian langit malam Karena bintang bercerita dalam bahasa cahaya bukalah hatimu Baca

Tak akan Ada yang Berkurang
Tak akan Ada yang Berkurang

KITA terkurung tapi tak akan ada yang berkurang, selepas salam kedua kau melipat sajadah dan mukena dan tak akan ada Baca

Feto
Feto

Pucuk pakis raksasa di KRB (Foto: Hasan Aspahani) Pucukmu rahim daun-daun, aku masuk ke damai seperti Baca

Maladi Malam Tadi
  • Save

Maladi Malam Tadi : Richard Oh 1. Bala Kelelesa INI yang kini kutanggung, sekarang, Bung!: bala kelelesa. Kata yang melata Baca

4 thoughts on “Kudaku adalah Buku

  1. Cara penggunaan “diang” ini menarik ya.

    Berdiang di sisi tenda.
    Sambil diang masak nasi.
    Soa untuk mendiang orang tua.
    Bagai pucuk pisang didiang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap