Dengen Hurufnya Orang Olanda

Oleh Hasan Aspahani
ADA serangkai syair terdiri dari lima belas bait terbit di Soeling Hindia, No. 2, Th. 1, 1 Januari 1910. Isinya pemberitahuan bahwa sejak edisi itu majalah tersebut dicetak dalam huruf rumawi atau latin, “dengen hurufnya Orang Olanda”. Sebelumnya media tersebut memakai huruf Arab.
Kenapa? Mari kita baca petikan empat bait dari rangkaian pantun itu.
3. Pantun alias Soeling Hindia,
Mulai sekarang dicitak pula,
Dengen hurufnya orang Olanda,
Agar supaja tambah berpahla.
 
4. Adapun sebabnya yang amat syah
Soeling Hindia di ini masya
Dicetak tiada berhuruf Arab
Belun temponya di ini abad.
 
5. Huruf Arab terlalu susa
Banyak drukkerij yang ta’ biasa
Mengusahakan itu di ini masa
Sebab terpandang lakunya susa
 
6. Maski ada drukkerij yang punya
Tapi tiada dengan sepertinya
Albrecht, Kolf kurang apanya
Hanya ta’ banyak ongkosnya
Tak jelas siapa nama si penulis syair berjudul “Pemberian Tahoe” ini. Hanya diterakan inisial B.K. Kita hanya bisa menebak ia pastilah si pemilik atau setidaknya pengelola terbitan berkala tersebut.
Saya ingin memakai syair ini sebagai pijakan awal pembicaraan soal ejaan. Persoalan ejaan, dalam bahasa Indonesia, mula-mula salah satunya terkait soal praktis seperti ini. Soal ongkos cetak. Soal tak ada lagi percetakan yang punya mesin yang bisa mencetak dengan huruf Arab. Ya, ini soal penggandaan massif dengan aksara yang dipilih untuk dipakai.
Kita tahu aksara adalah lambang bunyi. Bunyi kata “centang perenang” misalnya, sama saja bunyinya, apakah ia ditulis dalam aksara Arab (Melayu) atau hurufnya orang Olanda. Aksara adalah perkara sekunder dari urusan lisan. Dan di situlah soalnya.
Bunyi kata Melayu yang ditulis dalam aksara Arab Melayu atau Jawi, ketika harus dialihkan ke aksara rumawi, bagaimana caranya? Suatu bunyi yang disimbolkan oleh satu huruf di sistem aksara A, ketika disalin ke dalam sistem aksara lain, harus jadi huruf apa?
Di sinilah persoalan ejaan muncul. Di sinilah soal standarisasi harus disusun, sebagai sebuah upaya berpegang pada sebuah kesepakatan. Ejaan adalah sistem penulisan. Ia harus tertib. Maka lahirlah upaya-upaya menetapkan ejaan resmi oleh penguasa Hindia Belanda, tanpa terlepas dari segala kepentingan kolonialismenya, hingga penguasa negeri merdeka ini. Terkait dengan ejaan resmi, maka itu selalu politis.
Ortografi bahasa Melayu – cikal bakal bahasa Indonesia itu – sebelum Abad ke-20 tidak pernah seragam. Kenapa? Belum dirasakan perlunya penyeragaman itu. Penguasa kolonial pun bimbang, apakah menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa rakyat atau bahasa Melayu.
Penulisan bahasa Melayu ke dalam aksara rumawi sudah dilakukan sejak abad ke-16, melewati perubahan berkali-kali. Tak pernah ada yang baku. Bahasa Melayu pasar – berkembang sendiri, antara lain dikembangkan oleh para penulis Melayu-Tionghoa.
Ketika akhirnya bahasa Melayu tinggi diputuskan dijadikan bahasa politis untuk mengontrol rakyat dari pengaruh “bacaan liar” disusunlah ejaan baku yang pertama, Kitab Logat Melajoe, pada 1901, oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Ch. A. van Ophuijsen. Sepuluh tahun kemudian, “Soeling Hindia” pun berganti aksara. Tentu berdasar ejaan Van Ophuijsen itu.
Pada kongres Bahasa Indonesia I di Solo, pada 1938, sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda, diputuskan – lagi-lagi ini politis – untuk sementara menerima ejaan van Ophuijsen itu.
Dua tahun setelah merdeka, pada 1947, republik punya ejaannya sendiri. Nama Ejaan Soewandi diambil dari nama Menteri Pendidikan kala itu. Ejaan itu tidak memuaskan. Pada 1957, sebuah komite ditunjuk untuk menyusun revisi atau pembaharuan. Tapi hasil kerja tim itu tak pernah diberlakukan.
Persoalan ejaan pernah juga jadi persoalan dua negara berumpun bahasa sama. Diusulkan satu ejaan yang menyatukan bahasa Melayu di Malaysia dan Bahasa Indonesia, pada 1958, namanya Ejaan Melindo. Tim persahabatan dari Indonesia diketuai Slametmuljana. Sutan Takdir adalah sosok yang paling berhasrat mewujudkan satu ejaan itu. Usulan ini juga tak pernah dipakai. Konfrontasi membuat gagasan itu semakin luluh-lantak.
Setelah konfrontasi pada 1966, disusun lagi sebuah sistem ejaan baru, namanya Ejaan Baru 1966. Ejaan baru ini dibicarakan bersama antara Malaysia dan Indonesia, meskipun kedua negara menamainya dengan nama yang berbeda.
Pada tahun 1972 – setahun setelah saya lahir, ups… – Presiden Soeharto mengumumkan sebuah ejaan resmi baru, di hadapan DPR RI kala itu. Lahirlah Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
Lihat, betapa politisnya soal ejaan baku atau standar itu.
Orang mengatakan, Soeharto, dengan Orde Baru-nya, menguasai cara kita berpikir di negeri ini juga lewat bahasa, lewat ejaan.
EYD rasanya cukup memuaskan, meski banyak kritik atasnya. Disebutkan bahwa bahasa menjadi kaku karenanya, tidak asyik, apalagi jargonnya “Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” yang terasa menjadi seperti polisi bahasa berkeliaran di sekitar kita. Tak pernah lagi ada upaya mengusulkan ejaan baru.
Sampai pada 2015, Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengeluarkan Keputusan soal Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Tak banyak perubahan pada ejaan baru ini. Dasar pemikirannya pun sama: standarisasi, penertiban, peneguhan bahasa resmi negara, bahasa yang baik dan benar. Yang baru hanyalah istilah “pemantapan fungsi” Bahasa Indonesia untuk berbagai pemakaian yang semakin luas di berbagai bidang.
Ketika bertemu frasa “ejaan baku”, yang terbayang di kepala kita adalah soal pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan. Yang terakhir itu mengingatkan kita pada persoalan yang terkait alih aksara seperti “Soeling Hindia” ketika beralih percetakan.
Ejaan terbaru PUEBI itu bisa diunduh gratis. Unduhlah. Bacalah. Penulis, orang yang menggunakan dan menggeluti bahasa lebih intens ketimbang pengguna lain, perlu mengetahuinya. Bahkan wajib. Itu harus jadi rujukan awal. Memangnya mau merujuk ke ejaan yang mana? Van Ophuijsen? Soewandi? Atau ejaan Melayu Pasar yang tak pernah dibakukan itu? Atau kamu mau bikin ejaanmu sendiri?
Eh, tapi sebenarnya ejaan itu apa, sih? (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s