Berpuisilah, Mendakilah

Sesekali setelah membaca sebuah puisi yang baik, kita memang kerap tergoda untuk menulis puisi. Itu bagus. Itulah gunanya puisi yang bagus. Ia menggoda kita untuk menulis puisi yang lain, menerjemahkan perasaan kita sendiri ke dalam puisi seperti puisi yang kita baca dan kita sukai itu.

“Namun adakalanya saya berpikir, sebanyak apa pun puisi yang saya tulis, saya tidak akan bisa menyamai kekuatan puisi karya Chairil Anwar,” kata seseorang. Nah, ini yang tidak benar. Kalau kita hanya menempuh jalur pendakian Chairil sekuat apapun kita mendaki, kita hanya akan sampai pada puncak yang dia capai. Itu pun kalau kita kuat mendaki sekuat Chairil.

Maka, kita harus membuka jalur pendakian lain agar kita sampai ke puncak yang lain. Menulis puisi, sebanyak-banyaknya, itu baik bagi perpuisikan kita, karena akan terbentang banyak puncak-puncak pencapaian baru, yang menjulangkan sastra kita di peta kebudayaan dunia.

Tidak ada yang memaksa kita menulis, tidak ada yang memaksa kita melakukan pendakian ke puncak puisi itu. Tidak ada juga yang menuntut kita untuk sampai ke puncak. Mendakilah karena kita menikmati dan menyukai perjalan berat untuk sampai ke puncak itu. Meskipun akhirnya memang tak banyak yang bisa sampai ke sana. Mendaki itu melelahkah. Diperlukan energi, minat yang terus-menerus, dan stamina yang harus terus dijaga.

Saya tak bisa menemani, maaf. Hanya menyemangatimu apabila kita berpapasan di kaki gunung, di titik nol jalur pendakianmu, kawan. Saya sedang buru-buru, saya hendak mendaki puncak saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s