Kau Bertanya Kenapa Makin Banyak Baca Makin Sulit Menulis Puisi?

SAYA jadi ingin bertanya juga, kapankah menulis puisi itu tidak sulit bagimu? Apakah dulu ketika tak pernah membaca puisi apa-apa? Atau ketika baru mulai membaca puisi dan belum terlalu banyak?

Aku juga ingin bertanya, puisi apa yang sudah banyak kamu baca itu? Sehingga membuatmu makin sulit menulis puisi? Bagaimana caramu membaca mereka? Apa yang kau dapatkan dari puisi-puisi yang kau baca itu?

Lalu puisi bagaimana dulu yang kau tulis ketika menulis puisi terasa tak sulit bagimu? Puisi yang memuaskanmu? Atau puisi yang membuatmu merasa bisa menulis puisi?

Ada semacam keterampilan yang dibutuhkan untuk menulis puisi. Kekriyaan berbahasa. Ada sisi pertukangan yang harus dikuasai. Semakin banyak kita menulis, harusnya kita semakin terampil. Tapi tentu saja menulis puisi bukan pekerjaan tukang.

Membaca puisi, bagi saya, kadang juga berarti memperhatikan bagaimana penyair yang mahir menukang itu memeragakan keterampilannya. Bagaimana ia mengolah bahasa, di luar urusan bagaimana ia menggarap tema sajaknya.

Selalu ada yang ingin dan bisa saya curi dari cara mereka mengolah bahas dalam puisi mereka. Lalu saya tukangi lagi cara itu, menjadi cara lain yang terasa baru atau setidaknya berbeda.

Dengan membaca secara itu saya kira tak punya alasan bagi saya untuk menjadi semakin sulit menulis karena semakin banyak membaca.

Pertanyaanmu mengingatkanku pada sajak Borges. Untukmu, kuhadiahkan terjemahanku atas puisinya itu, apa yang dulu kuterjamahkan untukku sendiri, untuk perpuisikanku sendiri. Bacalah, terutama dua larik pada bait terakhirnya itu.

Elegi
Jorge Luis Borges

Ah nasibmu, Borges,
berlayar menempuhi segala samudera dunia
berlayar mengarungi laut satu berbagai nama
berbagi ada dengan berbagai kota: Edinburg,
Zurich, dan dua Kordoba, Texas, juga Kolombia,
terpulang kembali ke akhir generasi yang berganti
ke negeri nenek moyang, tanah-tanah yang purba
ke Andalusia, ke Portugal dan negeri-negeri lainnya
di mana orang Inggris bertempur dengan Denmark
dan mereka membancuhkan darah mereka,
mengembara menembus senyap
labirin merah Kota London,
lalu menua di pantulan setiap cermin,
sia-sia mencari, pada tatapan beku patung,
bertanya pada litograf, ensiklopedi, dan atlas,
melihat apa saja yang juga dilihat manusia lainnya,
kematian, fajar yang enggan, tanah lapang,
dan bintang-bintang cemerlang,
dan aku juga tak melihat apa-apa, nyaris tak ada,
kecuali wajah gadis dari Buenos Aires,
wajah yang tak akan pernah ingin kau ingat.

Ah nasibmu, Borges,
mungkin tak lebih asing dari engkau sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s