Seperti Potongan Dialog dalam Drama Korea

MENULIS puisi hari-hari ini dengan kecemasan tergelincir ke dalam dialog drama Korea. Padahal sebuah judul itu sudah lama ada dan terbiarkan: Seandainya Kita di Wuhan atau Milan, juga sebaris kata untuk bait pertama: mereka akan mengunci kota, menutup stasiun bis, dan aku harus kembali ke flat atau apartemen, bermenung bersama diam bahasa.

Atau memutar televisi, ibadah banal manusia modern ini. Lumayan, ada juga petikan percakapan yang bisa kurenungkan. Monolog ini, misalnya, “tak ada yang mengajari aku untuk menghadapi kematian (juga perpisahan) dengan elegan, dan dengan sebaik-baiknya menerima imbas keburukan.”

Ada virus yang bermutasi dari jinak ke ganas, dalam kata-kata yang aku sembunyikan, yang aku dustakan, juga yang belum bisa kutuliskan. Itu sebabnya, dalam bait-bait sajakku, kuberi jarak letak, ruang antarkata. Agar ada kamar untuk liar, pekarangan untuk berlari riang, dan aku masih ingin bisa mengendalikannya, atau ikut bermain bersama mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s