Perjamuan Puisi

PUISI adalah perjamuan. Para penyair adalah para juru masak yang menghadirkan hidangan. Apa yang terhidang haruslah hidangan yang memang layak untuk disajikan. Bukan yang asal bikin.

Karya yang terhidang harus tersajikan dengan cantik. Para penghidang harus berpikir bahwa karyanya harus menjadi yang paling memikat. Paling lezat dan paling dipuji, terlebih penting paling dinikmati.

Kalau seluruh hidangan enak maka apakah dengan demikian tak ada lagi arti enak? Mungkin. Maka karena itu standar enak itu mesti terus ditingkatkan. Terus dikembangkan. Dengan cara itu maka perjamuan itu jadi maju, bergerak ke depan, ditunggu, dirindukan, berharga untuk diberi perhatian.

Selera memang tak bisa dan tak perlu diperdebatkan. Tapi ini bukan soal selera. Perjamuan puisi itu bagi saya sudah jadi semacam ritual panjang. Sejak Hamzah Fansuri, Munsyi Abdullah, Raja Ali Haji, Amir Hamzah, Chairil Anwar, mereka para penghidang yang sudah memanjakan kita dengan hidangan yang nikmatnya tak terlupakan dan gizinya menyehatkan kita dan bahasa Indonesia kita ini.

Hari ini, kalau kita suguhkan puisi yang buruk, bagi saya itu seperti pengkhianatan dan pelecehan terhadap perjalanan panjang puisi dan bahasa Indonesia.

Tentu saja kecantikan bisa menipu. Hidangan yang memikat dipandang, mengundang selera dengan polesan, taburan dan balutan macam-macam kembang dekorasi bisa jadi daya tarik. Tapi kecantikan seperti itu hanya akan jadi topeng yang menipu jika yang disajikan itu rasanya tak karuan tempuh, bikin mual.

Hidangan yang terbaik adalah yang menyehatkan, bergizi bagi jiwa, pun disajikan dengan menarik. Menarik tak selalu berarti cantik. Yang penting adalah dia wajar, tak menipu, bukan bungkus yang mengelabui.

Wujud rupanya harus memikat, rasanya harus memuaskan lidah, kandungan gizinya harus menyehatkan jiwa. Itulah jalan estetika dalam perjamuan itu. Yaitu bagaimana sebuah hidangan merangsang dan menggoda bekerja seluruh indra manusia. Bila perlu dengan cara yang belum pernah dengan cara itu indra bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s