Menghindar dari Sastra yang Berjejal di Ruang Sempit dan Kumuh

ADA yang bertanya begini: …apakah ketika puisi itu ditulis, sang penulis akan sibuk dengan teori sastra? Baru cret muncullah puisi.

Saya sudah mengobrolkannya di vlog saya (Juru Baca di Youtube). Pertanyaan begini memang kerap ditanyakan, dengan serius, lebih sering main-main. Apapun itu, saya ingin menjawab begini:

Teori ambiguitas lahir setelah William Empson (1906-1984) mempelajari sajak-sajak Shakespeare. Artinya? Teori lahir dari dan setelah ada karya sastra. Ini untuk sekadar contoh.

Jassin “mabuk” di hadapan sajak Chairil. Dia merayakan sebuah penemuan. Sebelumnya, dia membaca buku tentang naturalisme, ekspresionisme, dan buku lain tentang aliran yang membawa kesederhaaan baru di Jerman. Buku-buku itu membanjir di Pasar Senen sebagai buku bekas, setelah Jepang masuk. Para meneer terusir, dan buku-bukunya diloak. (Kisah ini bisa dibaca di buku saya “Chairil” (Gagas Media, 2016).

Teori-teori yang dibaca Jassin ia temukan sosoknya, wujudnya pada karya Chairil. Chairil sendiri tak pernah membaca teori itu sebelumnya.

Ini contoh lain lagi bahwa untuk menulis puisi yang bagus tidak harus menguasa teori sastra yang tinggi-tinggi sekali, meskipun kemudian dari pidato-pidato dan esainya kita bisa menduga bahwa Chairil berkembang pengetahuannya, dia menguasai teori-teori sastra.

Jadi, menulislah sebagai aktivitas kreatif, yang menyehatkan batin. Berpuisilah. Bersastralah. Hasilkanlah karya sastra. Karya sastra itulah yang jadi bahan para akademis, kritikus, teoritikus untuk ditelaah dan mungkin dari karya kita itu lahir teori baru, atau menguatkan teori yang sudah ada.

Penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaan ini: … para akademisi yang notabene kuliah sastra secara otomatis akan menghasilkan karya sastra yang katanya bermutu?

Jawabannya: tidak! Tugas para akademisi adalah mengembangkan ilmu sastra, menggalakkan telaah sastra, mengkaji apa yang sudah dicapai oleh sastra dalam masyarakat kita, juga menyalakan lampu penerang bagi jalan kemajuan sastra kita.

Memang, ada banyak nama yang cemerlang sebagai akademisi dan cemerlang pula sebagai sastrawan. Kita punya Sapardi Djoko Damono, juga Budi Darma. Di luar sana ada T.S. Eliot.

Tapi sekali lagi, bersastra, berpuisi, itu adalah aktivitas kreatif. Itu ranah penciptaan. Siapa saja boleh bermain bergembira dan bersenang-senang di situ.

Tapi siapa saja juga boleh mengambil jalan lebih dari sekadar bersenang-senang karena seni, seni apapun, juga menyediakan jalan bagi siapa saja untuk menemukan penemuan-penemuan, menawarkan kebaruan-kebaruan, memperluas kemungkinan-kemungkinan pencapaian baru, membangun dan mencapai puncak yang lain.

Dan sastra memerlukan itu, jika tidak maka ia – okelah, tetap hidup – tapi berjejal di ruang sempit dan kumuh.

8 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s