Tentang Puncak dan Kematangan

ADA seseorang bertanya. Dan saya menjawab. Di akhir nanti saya mengutip sajak “Para Penyair” dari penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Tanya: Ini kegelisahan saya sebagai pemula, apa sih kematangan dalam menulis puisi itu? Apakah kematangan itu ada?

Jawab: Tentu saja kematangan itu ada. Apapun dimulai dari nol. Dari benih yang disemai, ditanam di tanah yang baik, dirawat, dijaga tumbuhnya, berbunga, berbuah, dan matang. Tapi, setelah matang lalu apa? Berhenti berkembang? Membusuk? Saya senang memetik buah matang dari usaha cocok tanam saya di lahan saya sendiri. Saya tak mau membusuk. Saya akan menanam lagi. Menyilang benih baru. Menghibrid buah-buah di kebun saya. Menyilang berbagai tananam sebagai percobaan yang kerap kali gagal. Tapi saya harus lakukan itu karena saya tak mau membusuk.

Tanya: Apakah kematangan itu cuma milik penyair senior?

Kalau ada si junior, kalau memang harus pakai pembedaan senior-junior, yang sudah merasa matang, itu bagus. Hebat. Dia seorang yang terampil bercocok tanam. Pertanyaannya sama saja, lalu setelah merasa matang dia mau buat apa? Berhenti menanam tanaman baru? Pohon kreatifnya selebat apa? Dia menikmati panen dari satu pohon itu saja?
Tanya: Maaf maksudnya, apakah jangan-jangan penulis senior juga kadang gak merasa matang?

Saya mungkin merasa menemukan sesuatu dari percobaan saya menyilang berbagai jenis tanaman di kebun puisi saya. Saya tak mau merasa matang. Karena saya tak mau hanya membusuk. Meskipun membusuk itu ada hakikatnya juga baik. Kembali ke tanah, mengurai menjadi unsur hara yang akan diserap tanaman lain. Beberapa penyair yang saya kenal saya tahu terus merawat kegelisahan kreatif, mencari hal-hal baru. Menghibrid lagi berbagai kemungkinan dari buah-buah puisi yang sudah ia panen dan sudah matang.
Tanya: Atau kematangan itu adalah setelah menuliskan puisi yang utuh? Utuh menurut individu penulis mau pemula atau yang sudah lama?

Utuh tak utuh tak ada kaitannya dengan kematangan. Bagi saya sajak yang baik itu harus mengandung keutuhan (unity) , kepelikan (complexity), intensitas (intencity). Ketiganya dibangun dengan memberdayakan sebagian dari seluruh perangkat puitika yang mungkin dipakai dalam sebuah puisi yang saya tulis.
Tanya: Banyak dari teman-teman pemula, sering curhat, bahwa ketika mau mencoba menulis selain puisi, semisal cerpen atau esai, tapi mereka bilang “eh tapi aku menulis puisi belum merasa matang” disitu aku mikir, lalu jika kematangan menulis puisi itu ada, apakah yang memilikinya adalah penulis lama?

Jawab: Bagus juga kalau merasa belum matang. Tapi kalau mau menulis jenis tulisan lain tak perlu menunggu matang dulu menulis puisi. Menulis ya menulis saja. Bebas. Coba jenis tulisan kreatif apa saja. Novel, cerpen, esai, tak ada yang mudah. Semuanya menantang.

Tanya: Lagi-lagi aku meragukan, meragukan kepuasan penulis lama, apa mungkin penulis senior tidak akan meresahkan tulisan-tulisannya?

Jawab: Sekali kali, siapapun dia, penulis baru atu penulis lama, ketika dia merasa puas, dia mati. Dia berhenti menjadi kreator. Untuk tetap kreatif orang harus merawat kegelisahan. Menulis itu harus kita jalani seperti mendaki. Kita harus mencapai puncak. Kibarkan bendera kita di sana. Lalu turun, cari gunung lain dan capai puncak lain.

Saya petikkan “Para Penyair” dari Sutardji Calzoum Bachri:

para penyair / jangan biarkan dirimu / berlamalama / di lembahlembah // jangan lama terperangah / pada keanekaragaman tanah // lembah dan lereng / memang disiapkan / agar kalian / mengingat puncak / menantang / meraih / atas.

Mari menanam. Mari menyilang. Mari memanen apa yang sudah matang. Mari mendaki.  Sambil bernyanyi-nyanyi.  Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s