Membelai atau Melecut?

Oleh Hasan Aspahani

KALAU ada seorang anak kecil dengan berani dan penuh percaya diri memasak dengan mencoba langsung di dapur kita harus bergembira dan beri pujian padanya. Kita harus sambut dia sebagai anak yang berminat dan mungkin punya bakat menjadi juru masak hebat.

Ia harus didukung dan dibantu agar minat dan bakatnya berkembang dengan baik. Dengan cara? Beri dia buku-buku tentang memasak, atau kursuskan jika punya anggaran. Cari seorang guru yang bisa mengajari dia memasak dengan benar.

Kalau setelah sekian tahun belajar si anak tak juga bisa membedakan rawon dan tongseng, tak tahu mana kunyit dan mana jahe, mana lada dan mana ketumbar, sebaiknya dia diarahkan untuk mencari minat di bidang lain.

Ada saat membelai sebagai dorongan semangat, ada saat melecut agar tersadar telah menempuh jalan yang salah, agar tak semakin salah.

“Tapi kan tidak apa-apa, setidaknya bisa untuk makan sendiri?” Oh, kalau itu boleh. Tapi kalau dia minta modal untuk buka restoran karena puji-pujian palsu dan basa-basi kita untuk menghiburnya maka sebaiknya jangan kabulkan. Kalau kita tak ingin  semakin  menghacurkan dia.

Begitulah sikap saya, terhadap diri saya sendiri, di dunia tulis-menulis ini, di jalan puisi ini. Mula-mula saya menggeluti sastra sebagai seorang amatir. Dan terus menjadi seorang amatir dalam pengertian denotatifnya.

Kata itu dibentuk dari kata benda dalam bahasa Latin “amatus” (kekasih, sahabat) turunan dari kata kerja “amare” (mencintai).

Kata yang menjadi “amateur” (dalam bahasa Inggris dan Prancis) itu kemudian diartikan sebagai orang yang menggeluti sesuatu, mempelajarinya, sebab terdorong oleh rasa cinta atau karena dia mencintai bidang itu.

Kini kita membedakannya dengan seorang profesional. Pegolf amatir jelas beda dengan pegolf profesional yang mencari nafkah dari kecintaannya pada olahraga itu, menjadikannya profesi.

Bersama puisi, selamanya saya akan menjadi seorang amatir. Sesekali puisi yang saya cintai itu berbaik hati memberi imbalan pada saya. Misalnya lewat royalti buku atau   honor dari koran dan majalah, saya senang.

Tapi saya berusaha keras tidak menjadikan imbalan itu sebagai alasan saya bertahan bersama puisi. Saya tak mau kehilangan kenikmatan mencintai dia, alasan pertama saya merengkuhnya jauh ke dalam hidup saya.

Jika saya anak kecil di awal tulisan ini, maka seiring waktu saya teryakinkan bahwa saya memang bisa memasak dengan baik, lumayan enak untuk disantap sendiri dan, aha, ternyata layak juga disuguhkan kepada orang banyak.

Saya sangat bersyukur jika kelak sajian puisi saya dianggap ikut memperkaya khazanah sastra di Indonesia, negeri yang bahasanya saya junjung  dan saya pakai untuk berpuisi, mengekspresikan perasaan, gagasan, dan pikiran saya.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s