Apakah yang Kutulis Ini Berharga?

Oleh Hasan Aspahani

MENULIS adalah mengambil sikap, bahkan ketika yang kau tulis adalah sajak imajis yang seakan-akan mengambarkan saja apa yang tampak terlihat.

Menulis adalah membuat pilihan-pilihan, membuat keputusan-keputusan. Menulis dengan kata lain adalah mengatasi atau melawan keraguan.

Menulis, adalah pekerjaan yang pada mulanya adalah kaki lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu, pada mulanya adalah hati lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Chairil Anwar (1922-1949) memutuskan menjadi penulis sejak usia 15 tahun. Tapi ia juga yang pada usia 22, di tahun 1944 berkata pada Jassin, “… dengan kritik yang agak tajam sedikit, hanya bebeapa sajak saja yang bisa melewati timbangan. …. dari sajak-sajakku bermula hingga penghabisan belum ada garis nyata lagi bisa dipegang.”

Dia pun ragu. Dia tak yakin. Dan karena itu dia bekerja dengan keras. “Prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya.”

Dia keras pada diri sendiri. Dia mematok standar tinggi bagi karya-karyanya. Saya kira itu yang bikin sajak-sajaknya hidup sampai hari ini.

Kita juga bisa belajar dari bagaimana Kahlil Gibran (1893-1931) menulis. Kalau belum pernah baca karyanya, sekarang bacalah. Sang Nabi, salah satu karya agungnya, tahun ini sudah diterjemahkan ke dalam 112 bahasa.

Gibran mulai menulis bukunya itu pada 1908, saat usianya 15 tahun. Buku itu ia tulis ulang, untuk yang ketiga kalinya sepanjang tahun 1917 hingga 1922. Lima tahun hanya untuk menulis ulang puisi-prosaik yang sudah ia tulis lima belas tahun sebelumnya.

Baru pada 1923, setahun setelah selesai penulisan ulang, ia menyerahkan karya itu pada penerbit. Kenapa harus selama itu? Apakah Gibran ragu? Apakah dia takut salah?
Saya kira tidak. Selama menuliskan dan menjalani meditasi mistis untuk magnum opusnya itu, toh ia menulis dan menerbitkan juga karya-karyanya yang lain.

Gibran sesabar itu menyiapkan sebuah karya yang mungkin sejak awal ia bayangkan menjadi karya yang mengabadikan namanya, menjadi lekat dengan dirinya. “Sang Nabi” nyaris menjadi kitab suci bagi peradaban manusia. Judul buku itu pun seakan menjadi nama lain bagi Gibran.

Chairil dan Gibran adalah dua penulis besar yang selalu dirudung ragu dan bertanya apakah yang kutulis ini berharga bagi kemanusiaan? Dan mereka bekerja keras untuk menjawab dengan karya mereka dan karya itulah yang jadi jawaban.

Dan kamu? Kenapa ragu untuk menuliskan sesuatu? Menulislah, lawan sebesar apapun keraguanmu atas apa yang kau tulis dan jangan sampai rasa ragumu itu membuatmu tidak menulis apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s