Aku Batal Memesan Kopi

Di kafe
di sebuah mal di Senayan
datanglah seorang anggota parlemen

Ia menyeringai seperti lambang partai
menampakkan gigi dengan
sekawanan lalat berbaris hinggap

(upaya yang gagal untuk mengatakan
dia akan membereskan semua urusan)

Aku batal memesan kopi
pergi menghampiri mejanya
dan aku berkata:
Tuan yang terhormat,
dengarkan, ruang mahal tempat
sidang paripurna di seberang itu
bukan panggung stand up comedy,
kalian bukan komika,
jangan berpura-pura hendak
bikin kami bahagia

Di dada kami tertancap paku
terbawa dari tempat pemungutan suara,
sakit sekali rasanya bila
harus tertawa melihat
kelucuan kalian yang terbuat
dari kebodohan kami sendiri.

Baca juga
Dongeng Kopi #2: Lagu yang Hanya Kau yang Mendengar
Dongeng Kopi #2:  Lagu yang Hanya Kau yang Mendengar

DIA, Roy Croft namanya, adalah penyair misterius. Mungkin dia tidak pernah ada. Orang menebak-nebak saja bahwa ia pernah hidup antara Baca

Hujan Setelah Hudan Membagikan Payung
Hujan Setelah Hudan Membagikan Payung

HUDAN membagikan hujan. Aku memilih hujan berwarna biru, selain hitam dan merah yang tersedia di taman kota itu. Hujan itu Baca

Memahami Puisi (2): Baca Puisi dengan Keras
Memahami Puisi (2): Baca Puisi dengan Keras

 Oleh Edward Hirsch SEBELUM melangkah terlalu jauh dengan puisi, Anda mula-mula  harus membacanya. Sebenarnya, Anda bisa mempelajari beberapa hal dari Baca

Perihal Membaca Puisi (16): Semacam Kebetulan Kau Pembaca dan Aku Penulis
Perihal Membaca Puisi (16): Semacam Kebetulan Kau Pembaca dan Aku Penulis

Oleh Edward Hirsch Membaca puisi meminta pembaca yang aktif yang harus secara imajinatif berkolaborasi dengan puisi untuk memberi suara kepadanya. Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap