Haiku, Perwujudan Estetika Shibumi dalam Bahasa

Oleh Hasan Aspahani

ADA istilah shibui (渋い), kata sifat, shibumi (渋 み) kata kata benda, dan shibusa (渋 さ) juga kata benda. Untuk mempermudah kita sebut saja ketiga kata itu sebagai: shibumi.

Artinya kurang-lebih sama. Ketiganya adalah kata-kata dalam bahasa Jepang yang menjelaskan sebuah konsep estetika yang menunjuk pada keindahan sesuatu yang sederhana, subtil, dan tidak mencolok.

Shibumi adalah konsep estetika dalam budaya Jepang yaitu ikhtiar untuk menghadirkan harmoni, ketenangan, dan keseimbangan yang lengkap. Semacam keheningan yang takzim, yang untuk menangkapnya, yang diperlukan adalah kemampuan “memahami”, bukan “mengerti” atau “mengetajui”.

Shibumi juga berarti ‘kesempurnaan yang seakan hadir begitu saja’, tanpa upaya untuk menghadirkannya, tapi tentu saja perlu upaya keras untuk menghadirkan atau mencapai kondisi itu.

Apa pun yang shibumi adalah keheningan yang dalam proses penyempurnaan, luhur, dan mencukupkan dengan cara yang tidak diburu dan tidak dibentuk secara eksklusif oleh pemikiran analitis. Shibumi seakan menghindar dari campur tangan rasio.

Karakter kanji untuk shibumi memiliki banyak arti. Istilah ini dapat menggambarkan pola pada kimono yang halus dan elegan. Atau keanggunan burung yang dengan ringan terbang mengepakkan sayap.

Rangkaian bunga shibumi mewujudkan kesejukan selama musim panas dan sebaliknya menghadirkan sinar matahari yang terik pada hari yang dingin. Itulah yang bisa kita pahami sebagai penggambaran tindakan yang dilakukan dengan kesempurnaan seakan tanpa usaha yang disengaja.

Konsep estetika ini hadir, dirasakan, diterapkan, pada berbagai lapangan kesenian dan kehidupan di Jepang. Dari arsitektur, tata ruang, seni keramik, seni busana, seni merangkai bunga, seni rupa, hingga seni puisi.

Terkait shibumi dalam puisi paling relevan adalah membicarakan haiku, yaitu bagaimana estetika itu diterapkan dalam seni kata khas dalam sastra Jepang itu. Haiku adalah perwujudan shibumi dalam puisi.

Dalam seni yang beruwujud benda, shibumi berarti adalah penampilan yang diperkaya, tenang, atau kualitas intrinsik baik dengan kehematan bentuk, garis, dan ikhtiar, untuk menghasilkan ketenangan abadi.

Shibumi mencakup kualitas-kualitas penting berikut: Pertama, suatu objek disebut mencapai taraf shibumi bila ia tampak sederhana secara keseluruhan tetapi memiliki detail yang halus, seperti tekstur, yang menyeimbangkan kesederhanaan dengan kompleksitas.

Kedua, keseimbangan antara kesederhanaan dan kompleksitas ini memastikan bahwa seseorang tidak bosan dengan objek yang mengandung shibumi itu dan terus-menerus menemukan makna baru dan keindahan yang diperkaya yang menyebabkan nilai estetikanya terus tumbuh.

Ketiga, sementara itu shibumi itu juga berada pada garis tipis antara konsep-konsep estetika yang kontras seperti yang elegan dan yang kasar atau yang spontan dan yang dikendalikan.

Tujuh elemen yang ada dalam shibumi dirumuskan oleh Dr. Soetsu Yanagi (1898–1961), seorang ahli estetika dan kurator adalah: 1. kesederhanaan, 2. ketersiratan, 3. kesantunan, 4. kealamian, 5. keseharian, 6. ketaksempurnaan, dan 7. keheningan.

Bacalah haiku yang baik. Resapkan. Kita akan merasakan Shibumi di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s