Gerakan Puisi Imajis

GERAKAN Imajis melibatkan para penyair di Inggris dan Amerika pada awal Abad ke-20. Mereka menulis sajak bebas dan mempersembahkannya untuk “kejernihan ekspresi melalui pemakaian ketepatan imaji-imaji visual.”

Gerakan ini disemaikan dari ide T.E. Hulme, yang di awal tahun 1908 membahas pada sebuah Klub Puisi di London sebuah puisi yang ditulis berdasarkan penggambaran dengan akurat subyek setepat-tepatnya, tanpa ada kata-kata berlebihan yang tak berguna.

Ezra Pound memproklamasikan gerakan ini pada tahun 1912. Kala itu dia membaca sebuah sajak Hilda Doolittle, dan menyebutnya sebagai “H.D. Imagiste” lalu mengirimnya ke Harriet Monroe di Majalah Poetry.

Rukun iman pertama dari manifesto (lihat di akhir tulisan ini) Gerakan Imajis adalah “menggunakan bahasa dari bahasa yang umum, tapi selalu memberdayakan kata yang setepatnya kata, bukan kata yang hampir-tepat, bukan kata-kata dekoratif belaka.”

CONTOH yang kerap disebut adalah puisi Ezra Pound berikut ini:

Di Stasiun Metro

Di kerumun orang, wajah-wajah menyelinap hilang;
Basah kelopak kembang, di hitam cabang-cabang.

Sajak ini dimulai dari pemandangan wajah-wajah di statiun bawah tanah yang gelap lalu membawa pada pandangan lain dengan menyejajarkan dengan imaji yang lain. Dari situ hadir sebuah atau serangkai metafora yang membangkitkan penemuan intutitif yang tajam untuk meraih esensi kehidupan.

Ezra Pound mendefinisikan imaji sebagai “apa yang padanya, dalam waktu sekilas seketika, menghadirkan sebuah kompleksitas emosi dan intelektual”.

Puisi Imajis, dirumuskannya antara lain sebagai: puisi dengan memperlakukan langsung “sesuatu”, sebagai subyek atau obyek; dan mutlak menggunakan, tak satupun kata yang tak memberikan sumbangan makna.

Antoligi Puisi Imajis terbit 1914 berisi karya-karya William Carlos Williams, Richard Aldington, dan James Joyce, serta H.D. dan Pound. Penyair Imajis lainnya adalah F. S. Flint, D. H. Lawrence, dan John Gould Fletcher.

Setelah antologi itu terbit, Amy Lowell dipandang sebagai pemimpin gerakan tersebut. Tahun 1917 gerakan imajis dianggap sudah berakhir tetapi idenya terus memberi pengaruh menembus abad 20. Model Puisi Imajis, sadar atau tidak banyak mempengaruhi puisi-puisi karya penyair Indonesia.

Manifesto Imajis

  1. Menggunakan bahasa dari bahasa yang umum, tapi selalu memberdayakan kata yang setepatnya kata, bukan kata yang hampir-tepat, bukan kata-kata dekoratif belaka.
  2. Kami percaya bahwa individualitas penyair seringkali lebih baik diungkapkan dalam sajak bebas daripada dalam bentuk konvensional. Dalam puisi, ritme yang baru berarti gagasan baru.
  3. Kebebasan mutlak dalam pilihan subjek.
  4. Sajikan gambar yang nyata. Kami bukan satu aliran pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberikan gambaran yang tepat dan tidak berurusan dengan generalisasi yang tidak jelas, betapapun indah dan nyaringnya. Untuk alasan ini kami menentang penyair kosmis, yang bagi kami tampaknya hanya untuk menghindar dari sesuatu yang sebenarnya adalah masalah dalam karya mereka.
  5. Menghasilkan puisi yang tegas dan jelas, tidak pernah kabur atau tak terdefinisikan.
  6. Akhirnya, kebanyakan dari kami percaya bahwa konsentrasi adalah hal yang esensi terpenting dalam puisi.

Baca juga
Melodia Sastra di GIK, Grand Indonesia
Melodia Sastra di GIK, Grand Indonesia

  Melodia Sastra - (dari kiri ke kanan) Penyair Hasan Aspahani, budayawan Candra Malik, dan musisi balada Ary Juliant saat Baca

Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis
Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis

PADA mulanya tidak ada beda dan pemisahan antara prosa dan puisi itu. Cerita disampaikan dalam sebuah bentuk yang sama yaitu Baca

Apabila Lagu Itu Ingin Kau Nyanyikan
  • Save

: Ikhsan Risfandi Zetry Iminy DI jalan itu tadikita melintas bergegasdikejar angin yang lekasyang enggan dan dingindan kita bayangkanada yang Baca

Kembang Nini Aliyah
Kembang Nini Aliyah

NINI Aliyah pencinta bunga-bungadan bunga-bunga memberinya cerita. Di ruang tengah yang lapangdi tengah hamparan lampit rotan,di atas meja pedistalia letakkan Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap