Puisi Lahir Ketika….*

     Puisi lahir ketika….

Ketika seorang prajurit yang gagah di medan laga menjadi seorang raja. Dia ingin mengenangkan pertempuran-pertempuran yang dia menangkan. Dia ingin rakyatnya membanggakannya. Lalu seseorang yang kalau sekarang disebut penyair pun diminta untuk menyusun kisah pujian dalam kata-kata yang terindah yang bisa ditatanya. Sebuah panegyric. Saat itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika …

Ketika dulu, kerajaan-kerajaan ingin mengabadikan semangat tempur prajurit-prajuritnya dalam lagu yang dinyanyikan ketika menuju ke pertempuran berikutnya. Seorang yang kalau sekarang mungkin disebut penyair dititahkan untuk menyusun syair lagu itu. Syair puja-puji, penggugah hati, pengobar semangat, pengingat kepada janji setia atas raja-raja, atau ringkasan sejarah kejayaan kerajaan. Saat itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika…

Sejarah minta diabadikan. Dalam syair-syair lama, kisah kepahlawanan bisa dikenang. Bisa dikaji ulang. Pencatat sejarah ketika itu adalah mereka yang mungkin kini kita sebut penyair saja.

Puisi lahir ketika …

Ketika huruf belum lagi jadi budaya manusia. Bahasa yang susunan kata-katanya indah begitu mudahnya diingat. Lalu, mereka yang kalau sekarang mungkin disebut penyair itu tiba-tiba disergap bosan. Hatinya tergoda menyairkan perasaannya tentang batu karang, gunung, laut, hutan, sungai, tentang kekuatan gaib dan misteri alam, tentang rasa gentar manusia, tentang dewa-dewa, dan makhluk halus. Juga tentang dongeng-dongeng dan kepercayaan yang luar biasa liar imajinasinya. Ketika itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika ….

Penyair telah menemukan dirinya sendiri. Memberi makna tak tergugat pada predikatnya itu sendiri. Puisi tak lagi menghamba pada apa-apa, kecuali pada puisi itu sendiri. Ia bebas. Ia mengundang tafsir datang pada dirinya sendiri. Penyair berburu, mencari, mencoba, bereksperimen dengan bahasa dengan puisi-puisinya. Pembaca juga bebas menafsir, jatuh cinta, atau mencampakkan puisi yang mana saja, hasil kerja penyair mana saja. Saat itulah puisi juga lahir. Dan akan terus lahir.

Puisi lahir ketika …

Ketika kita tak berhenti memperdebatkannya. Ia tak peduli.

* Diilhami oleh tulisan Thomas Love Peacock (1785-1866), The Four Ages of Poetry (1820)

Baca juga
Bantal – Li-Young Lee
  • Save

Sajak Li-Young Lee Tak ada yang kutemukan di bawah situ. Suara-suara di pepohonan, halaman yang hilang dari lautan. Segalanya tertidur. Baca

Tak Perlu Pemeran Pengganti
Tak Perlu Pemeran Pengganti

AKU memang tak pernah menimbang risiko tapi untuk mencintai dan merindukanmu - tugas yang mahaberat itu - aku tak perlu Baca

Ijtimak Ayah dan Anak
Ijtimak Ayah dan Anak

ANAKKU menggambar segelas cappuccino dengan gambar seperti wajahku pada permukaannya. Dan barista terkapar di samping mesin espresso yang masih menyala. Baca

Tentang Syarif
Tentang Syarif

SEKOLAH kami ituhanya bangunan tuamelintang sejajarjalan besarBalikpapan - Handil 2dan kami anak-anak kecil(murid-murid yang tak tertibdan mimpi-mimpi yang liar)berbaris di Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap