Gambang Semarang

untuk Triyanto Triwikromo

SEMARANG adalah warung soto dalam mangkuk kecil, sendok pendek, dan pilihan tambahan sate kerang atau perkedel ubi, udara panas, dan pengumuman kecil di dinding: pengamen dan pengemis khusus hari Jumat.

Semarang adalah warung tenda pagi hari, dengan opor ayam, mangut mayung, dan tempe garit, tukang becak, pedagang pasar Johar, teh tawar, dan jalan lebar yang membuat aku bertanya: berapa ratus meter lagi aku akan bertemu apa: Indomaret? Atau Alfamart?

Semarang adalah kompleks kota tua, kafe yang disulap dari kantor penguasa kolonial dan aku menyimak seorang penyair bercerita tentang bagaimana menuliskan riwayat pengusaha teh, dengan kata-kata Mao, petikan Kafka, dan Kawabata.

Semarang adalah penjual koran tua, menyerah di trotoar dengan lembar-lembar eksemplar harian yang mengempis dan aku melihat berita risau dari matanya yang seakan mengatakan: aku tahu kau tak akan membeli apa yang kujajakan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s