Tentang Selembar Jaket

AKU menemukan
selembar jaket yang kucel
di tepi simpang jalan yang ruwet
yang tak jelas lagi
ke mana arahnya.

Aku menduga
jaket yang lusuh itu
dicampakkan oleh seorang sarjana
setelah lelah dan resah
karena gagal mencari kerja.

Aku mengira
jaket yang kumal itu
dibuang oleh
mahasiswa entah dari kampus apa
setelah berunjuk rasa tanpa rasa
dengan bayaran sedikit di atas
standar upah buruh harian.

Aku ingin sekali memastikan
apakah itu dulu jaket almamater aktivis forum kota,
atau jaringan badan eksekutif mahasiswa,
yang kini menjadi anggota dewan perwakilan yang terhormat?

Mungkin saja. Ya, mungkin saja.

Mereka tak lagi perlu jaket itu,
sekarang mereka sudah necis dan rapi
dengan jas yang hangat dan nyaman
di kursi empuk dan ruang sidang yang sejuk dan remang-sendu
sehingga mereka lupa
menginterupsi sidang yang terburu-buru
memutuskan undang-undang yang terlalu
bersemangat mengirim rakyat ke penjara-penjara.

Aku hendak memungut jaket itu, hei, tetapi lihat!
Lihatlah!
Jaket itu berubah-ubah warnanya,
seperti lampu mercusuar yang hendak padam di kejauhan…

Kuning culas,
lalu menjadi hijau anyir,
kemudian biru dungu,
dan merah muntah,
lantas menjadi jingga KPK, astaga!

Aku tinggalkan jaket brengsek itu,
dan setelah beberapa langkah menjauh
dari saku-sakunya terdengar
suara orang-orang tertawa.

Aku mengenalnya, ya, tawa itu,
adalah tawa para koruptor
dari dalam sel-sel mewah penjara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s