Ruang Renung 2 – Marah dan Jatuh Cinta

SEORANG kawan berkata: saya bisa menulis puisi kalau sedang marah. Kawan yang lain bilang: saya hanya bisa menulis puisi kalau sedang jatuh cinta. Lalu seorang teman yang lain menyimpulkan seorang penyair adalah orang yang selalu marah dan terus menerus jatuh cinta. Benarkah begitu?

Penyair adalah manusia biasa yang bisa marah dan tentu juga boleh jatuh cinta. Ada persamaan antara keduanya, yaitu membuat manusia pada saat itu peka perasaannya. Puisi memerlukan itu. Kepekaan yang berlebih untuk menangkap tanda yang dikirim yang datang yang mengusik yang mengganggu yang diburu yang sekecil apapun bahkan yang remeh tak berguna.

Kerja menyair yang bersungguh-sungguh, sesungguhnya bukan pada saat membuat syair, tapi membuat perasaan kita terus menerus peka. Kepekaan itu berguna untuk menjemput tanda yang datang tadi, tanpa harus menunggu saat marah atau jatuh cinta. Yang entah kapan dan entah dimana akan berguna untuk hidup dan manusia lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s