Malaikat Malang – Edward Hisrch

Malaikat Malang
Edward Hirsch

Pada jam ketika jiwa melayang tak berbeban
lewat jalan kota, senyap dan tanpa tampak,
tercengang oleh bauran asap kelam-cerlang
menyesap pada udara, gelap setengah-takar

senja begitu saja memenuhi langit kota
sementara tubuh itu duduk lesu ambang jendela
murung dan limbung, terlalu lelah untuk bergerak,
terlalu penat untuk berdiri pun untuk sekadar rebah.

Pada jam ketika jiwa seperti sayap kuning
nyelinap menembus pucuk pohon, sedikit senang
di atas trotoar awan mengambang, memanggil
malam mendekat, “Takjubkan aku, takjubkan aku,”

sementara tubuh itu duduk murung ambang jendela
mendengarkan panggilan yang pasti dari si mati
telus sebagai kaca, tembus laksana kristal. Malam
lalu malam, lalu mereka nyaris terpersatukan.

Oh, ini pengekangan yang aneh dan tak biasa,
tautan murka antara yang cepat dan yang lambat:
ketika jiwa terbang, tubuh akan terbenam dan
sepanjang malam — terkunci di ruang sempit yang sama —

mereka terus bertengkar, dengan bebal mengancam
saling meninggalkan, tanpa kata mengisi udara
dengan lirih suara yang terbakar dari dalam.
Berapa lama persandingan berantakan ini bertahan?

Di tengah malam, jiwa bermimpi seunggun api
bintang menyala di sisi langit yang lain,
tetapi tubuh memandang kemilau malam kosong,
kegelapan bermata hampa. Nasib buruk malaikat,

kesumat cinta lama: belum terleraikan jua.
Biar yang fajar hidup bersama yang menyenja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s