Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti


Cerpen Hasan Aspahani


 

PLOTI mati.

Dia masih kecil ketika kami membawanya ke rumah kami dari apartemen kami sebelumnya. Belum setahun kami di rumah ini, dan Ploti mati. Bangkainya masih hangat ketika kami angkat dari jalanan di depan rumah tetangga depan. Kepalanya berdarah dan pecah. Lonceng kecil berbenang merah yang melilit lehernya pun gepeng terlindas. Bola matanya keluar dari rongga mata. Kami kira ia terlindas ban belakang mobil tetangga. Ploti memang suka sembunyi di bawah mobil. Kami lantas menguburkannya di sudut halaman rumah kami.

Lubang kuburannya jangan terlalu dalam, kata anak saya. Ia pencinta kucing, seperti aku, istriku, dan kakaknya. Anak saya yakin Ploti akan kembali hidup dan keluar dari kuburnya. Tentu saja tidak. Ploti sudah mati. Di atas makamnya istri saya menanam bunga mandevilla, sejenis tanaman merambat berbunga merah. Seekor kucing jantan tetangga, kami memanggilnya Bandot, sering datang ke situ. Seperti berziarah. Apakah kucing mempunyai konsep tentang hidup dan mati?

Ploti kami adopsi dari Plotpoint, sebuah rumah kerja kreatif, di mana saya secara lepas ikut menjadi pengembang cerita untuk beberapa skenario film, serial televisi, dan film pendek. Karena itu, kucing berbulu putih dan bertingkah lucu itu saya beri nama Ploti.

Ya, Ploti kucing yang lucu dan usil. Ia suka sekali bermain-main menggigiti kaki kami – betul-betul menggigit, tidur di atas pipa gorden setelah naik dengan memanjat kain gorden, suka menjatuhkan apa saja yang ada di meja kerja saya, dia juga suka tidur di bawah seprai. Sepertinya dia selalu merasa ada ancaman yang mengepung dirinya. Ploti selalu mencari tempat aman, yang tersembunyi, jauh dari jangkauan, dan selalu agresif menyerang.

Kata Ema, manajer di Plotpoint, Ploti dia pungut di jalan di dekat pasar. Ada yang menyepaknya dan nyaris saja roda motornya melindas kucing itu. Ia lantas bawa anak kucing ke Plotpoint. Orang-orang di kantor itu sepertinya semuanya pencinta kucing. Ada banyak kucing di sana, diberi nama macam-macam. Kucingnya gemuk-gemuk dan sehat. Jika ada yang sakit, kucing di sana di bawa ke dokter hewan. Juga diimunisasi. Saya membawa Ploti sesudah dia mau makan, dan sudah bisa membuka mata.

Istri saya tak mengizinkan Ploti main ke luar rumah, hingga beberapa minggu sebelum Ploti mati.  Saya bilang, biarkan saja, Ploti itukan kucing kampung, mana bisa dia dikurung. Saya kasihan kalau melihat ia duduk lama di bingkai jendela kaca, menatap liar ke luar kepada gerombolan kucing tetangga yang seperti mengajak Ploti bermain.  Hari pertama dia berada di luar rumah, Ploti berkelahi dengan semua kucing komplek, kecuali Si Bandot.  Bandot tidak melawannya. Ketika ditingas-tingas oleh Ploti dia diam saja.   Si Bandot, kucing berbulu lebat,  tampaknya paling tua dan dituakan di antara kucing komplek itu.

Suatu hari Ploti pernah menghilang dua malam. Aku dan istriku sedikit bertengkar. Istriku menyalahkan aku karena membiarkan Ploti keluar rumah. Pagi hari, setelah malam kedua, Ploti muncul dengan bulu kotor. Anakku bilang ada seekor kucing jantan yang berkelahi dengan Bandot, pada hari ketika Ploti menghilang. Pada hari Ploti kembali, kami tak melihat lagi ada kucing jantan itu. Ploti pun berubah perangainya. Ia lebih banyak tidur dan lebih banyak makan. Kata istriku pasti Ploti hamil.  Kami memikirkan bagaimana nanti anak-anaknya harus kami rawat? Kami sering bepergian. Suatu kali kami harus pergi seminggu lamanya, dan Ploti dititipkan di rumah supir kami. Agak merepotkan memang. Pernah juga di waktu yang lain, ketika kami harus meninggalkan rumah lagi, kami terpikir menitipkannya di hotel hewan peliharaan. Kata istri saya, cuma seekor kucing kampung saja kok dititipkan.

Memelihara kucing adalah hasrat lama kami sejak tinggal di kota ini, hasrat yang baru terwujud setelah pindah ke rumah. Tadinya kami tinggal di apartemen yang punya aturan tak boleh piara hewan. Meskipun kami tahu ada tetangga unit yang memelihara anjing pudel. Di kota tempat tinggal kami sebelumnya kami memelihara selalu kucing. Bukan kucing jenis yang mahal, hanya kucing kampung, yang sebagaian datang dan pergi sesukanya. Beberapa kucing hanya singgah untuk ikut makan.  Beberapa ekor dipungut oleh anak kami dari pasar. Ketika sudah besar, beberapa kucing itu kembali lagi ke pasar.

Pagi itu, ketika kami menemukan Ploti mati, kami lihat Bandot berjalan gelisah mengitari bangkai Ploti. Ia juga ikut melihat kami menguburkan Ploti.

Ya, Ploti sudah mati. Kucing baik dan lucu selalu lekas mati, kata anak saya. Ia mengenang beberapa kucing kami sebelumnya yang punya perangai unik tapi lekas mati. Kami pernah punya yang kami panggil Galuh, seekor kucing berbulu kuning, yang selalu mengeong di hari subuh. Seperti membangunkan kami. Suatu hari kami tak mendengar suaranya, dan menemukan Galuh mengeras kaku tak bernapas lagi di depan pintu. Mungkin ia tak sengaja makan sesuatu yang mengandung racun. Kami juga pernah punya si Endit, kucing yang kalau perutnya digelitik lidahnya menjulur-julur. Seperti kegelian. Menjelang dia mati, dia muntah-muntah, tak mau makan. Beberapa ia hari tak nampak, kami mencium bau bangkai, dan menemukan Endit membusuk di bawah tangga di bawah rak sepatu.

Dan sekarang Ploti pun sudah mati.

Sejak kematiannya setiap pagi, Si Bandot kami temukan seperti menunggu di depan rumah, menunggu kami membuka pintu. Ketika pintu kami buka dia akan masuk, nyelonong, pergi ke dapur, duduk sebentar. Istri saya akan bilang padanya, dengan sedih, Ploti tak ada lagi. Ploti sudah mati. Seperti mengerti apa yang dikatakan oleh istriku, Si Bandot berjalan dengan gontai keluar rumah. Kepalanya merunduk. Lalu menuju pokok mandevilla yang kini sudah merambat hingga balkon ke lantai dua.  Itu hanya balkon kecil yang pada pagarnya burung-burung pipit singgah bertengger mandi matahari tiap pagi. Mereka bersarang di bawah atap rumah.

Rumah kami di kota asal kami ditempati oleh orang tua kami.  Istriku selalu menelepon dan ibu selalu bercerita tentang kucing-kucing di rumah kami.  Istriku pun sebaliknya. Kami tak pernah kehabisan kisah tentang kucing-kucing peliharaan kami. Ibu bahkan bisa mengulang-ulang kisah kucing yang dulu ia pelihara ketika kanak-kanak, atau ketika istriku masih kanak-kanak dan tinggal di rumah komplek perusahaan tambang milik negara di sebuah pulau di Kepulauan Riau.

“Ada kucing baru datang. Warnanya putih. Pakai lonceng kecil dengan benang merah. Suka menggigit. Suka tidur di atas gorden….” kata ibu.

Istriku teringat pada Ploti. “Coba lihat matanya, Ma. Apakah berbeda warna?” Istriku ingat Ploti yang warna matanya biru di kanan, dan agak hijau di kiri.

“Nanti Mamak lihat,” kata ibu.

Sepulang sekolah cerita tentang munculnya kucing mirip Ploti di rumah di kota asal kami membuat anak sulung kami menelepon ke neneknya. “Tadi nenek sampai keliling komplek, tak ada yang pernah melihat kucing seperti yang muncul di rumah kita. Nanti nenek cari lagi.” Tapi, kucing mirip Ploti itu tak pernah lagi muncul. Kata anak saya, tuh kana pa saya bilang Ploti itu belum mati. Dia muncul lagi kok. Tapi Ploti sudah mati. Ploti tak pernah muncul lagi. Si Bandot masih setia duduk di sudut taman di mana Ploti kami kuburkan. Seperti ziarah.  Apakah kucing mempunyai konsep tentang cinta dan kehilangan?

Kami tak tahu siapa tuan pemilik Bandot. Ia makin sering datang ke rumah kami. Kami memberinya makan makanan pabrik. Bandot tak seperti Ploti yang hanya mau makan ikan rebus dan nasi.  Tempat yang paling suka dikunjungi Bandot adalah pojok taman di mana Ploti kami kuburkan. Anakku pernah ingin membongkar kuburan itu. Dia yakin sisa bangkai Ploti tak ada lagi di situ. Dia yakin Ploti menjelma di tempt lain.  Apakah reinkarnasi juga terjadi pada hewan?

Mungkin. Mungkin saja hewan bereinkarnasi menjadi makhluk lain. Itu terpikir oleh aku dan istriku, ketika melihat bunga pertama dari mandevilla yang ditanam istriku. Bunganya putih. Aku dan istriku yakin sekali bahwa waktu itu kami membeli mandevilla yang berwarna merah. Mandevilla terdiri dari beberapa jenis dengan warna bunga yang berbeda. Ada yang putih, merah, merah muda, dan kuning.

“Saya ingat sekali, yang kita beli waktu itu mandevilla merah. Harganya kan beda. Saya yang menawar.  Waktu itu tanaman yang kita beli sudah berbunga sekuntum. Warnanya merah. Ini kenapa warnanya berubah menjadi putih ya?” kata istri saya.

“Mungkin itu reinkarnasi Ploti. Dalam kehidupan baru ia menjadi bunga, makanya bunga yang tadinya merah menjadi putih,” kata anak saya.

 

Jakarta, Februari 2018

 

 

 

 

Satu pemikiran pada “Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s