Cerpen: Ada Suara Ketukan di Pintu-pintu Rumah di Kampung Karangbecak

Cerita Pendek Hasan Aspahani

SETIAP malam ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumah di kampung Karangbecak.  Mula-mula hanya pintu rumah Gonggiber, juragan ojek. Mula-mula ketukannya pelan saja. Gonggiber mengira itu ketukan cabang pohon kembang kertas yang tertiup angin.  Makin lama ketukannya makin keras. Gonggiber tak bercerita kepada siapa-siapa. Ia memotong cabang pohon itu, tapi suara ketukan itu tetap saja ada. Lama-lama ketukan yang sama juga didengar oleh  Suparlas. Nah, Suparlas ini mulutnya agak bocor. Dialah yang membuka cerita di rapat warga. Ia mengira jangan-jangan ini gangguan keamanan atau teror kecil-kecilan menjelang pemilihan umum.

“Biasanya kan memang begitu. Setiap kali pemilu di kampung kita ini ada saja gangguan keamanan.  Dulu pernah ayam peliharaan kita hilang satu per satu. Itu pas pemilu tahun berapa ya? Tahun itu deh pokoknya. Pemilu zaman Orde Baru,” kata Suparlas, juragan bengkel las legendaris.

Ternyata hampir semua rumah mengalami hal yang sama. “Sekarang tujuannya meneror kita itu apa? Dulu kan jelas, di kampung kita ini kagak pernah partai Golongan Kerja itu menang. Bagaimana mau menang, di sini tidak ada pegawai. Kampung kita ini isinya tukang becak, buruh, tukang ojek, dagang asongan,” kata Durjain, kepada beberapa warga yang masih nongkrong di musala. Rapat warga sudah bubar. Tak ada yang bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.  Pak RT hanya meminta warga tetap waspada.

Durjain sekarang termasuk warga kampung yang kaya. Ia disenangi warga karena suka bawa proyek, dan itulah profesinya. Kalau Durjain mengundang warga kumpul dengan agenda “ada proyek” itu artinya, sedikitnya 50 warga, laki-laki atau perempuan dapat rezeki, duit kontan, makan siang, minum, dan tamasya ke kota.  Mereka menganggapnya tamasya. Mereka diangkut truk atau sesekali minibus, setelah diajari untuk meneriakkan yel-yel tertentu. Juga dibagikan poster, dan properti seperti ikat kepala, bendera, sampai spanduk.  Mereka tak peduli apa isi poster dan spanduk itu. Jika proyeknya besar, maka bisa saja seluruh warga kampung ikut, kecuali yang sudah tua kayak Engkong Rozikin. Tapi, pernah juga engkong ikut, karena si pemberi proyek minta ke Durjain agar beberapa orang tua diajak juga. Agar terlihat lebih dramatis, katanya.  Dulu Durjain juga menjadi orator yang berorasi di atas mobil atau di depan massa berhadapan dengan petugas keamanan. Kini dia hanya mengatur di balik layar. Beberapa anak muda kampung sudah ia didik menjadi orator. Beberapa anak muda lainnya  sudah ia latih pula menjadi pengatur massa aksi.

Apakah ketukan-ketukan di pintu rumah-rumah di kampung itu berkaitan dengan proyek-proyek Durjain itu?  Tapi, kenapa yang mula-mula mengalaminya adalah Gonggiber dan Suparlas? Dua orang yang dikenal tak pernah ikut proyek demonya Durjain?

Gonggiber adalah anak dari juragan becak. Ia mewarisi usaha becak dari ayahnya yang mewarisinya dari kakeknya. Sebelum becak dilarang, Gonggiber dan ayahnya pelan-pelan mulai mengalihkan ke bisnis ojek dan angkot. Ketika becak hendak dilarang, ratusan penduduk kampung lain dan kampung lain sempat berdemo habis-habisan.  Salah satu pemimpin yang meggerakkan pendemo adalah Markolong. Dia memang dianggap pemimpin yang dihormati oleh tukang-tukang becak. Dia punya beberapa becak yang dijalankan oleh kerabat dekatnya. Jadi kelasnya tak termasuk juragan becak, seperti ayah dan kakeknya Gonggiber.

Asal tahu saja, Markalong adalah bapaknya Durjain.  Durjain masih kecil ketika larangan becak itu benar-benar terjadi. Markalong tak mau menyerah. Demo besar terakhir yang ia pimpin menyebabkan dia tak pernah kembali. Beberapa tukang becak, penduduk kampung itu pun hilang. Konon mayatnya dibuang ke teluk Jakarta bersama becak-becak yang di sita, dan menjadi rumpon.

Yang juga hilang adalah  Susi Becak. Dia satu-satunya tukang becak perempuan di kampung Karangbecak. Untuk menghidupi anak-anaknya, Susi Becak menggadaikan perhiasan pada ayahnya Durjain agar bisa menyewa sebuah becak, setelah suaminya meninggal dan meninggalkan utang. “Lunasi dulu utang suamimu, baru boleh pakai becak saya,” kata ayah Durjain. Susi Becak, nama yang melekat padanya kemudian, menawarkan kalung emas miliknya sebagai jaminan. Kelak kalung itu dikembalikan kalau utang suaminya sudah lunas.  Kira-kira seminggu setelah demo besar saat Susi Becak menghilang, mayatnya ditemukan tergantung di sebuah pohon di pinggir kampung itu. Kata polisi dia bunuh diri.

 

SEBENARNYA kampung Karangbecak sekarang lebih dikenal sebagai kampung Kampungdemo. Itu berkat Durjain. Ia bahkan sudah memperluas bisnisnya ke kampung-kampung lain, di sekitar kampung Karangbecak, sesuai dengan meningkatnya permintaan.  Maka, wilayah Kampungdemo itu lebih luas daripada Karangbecak, tepatnya Karangbecak ditambah empat kampung lain yang berdekatan.

 

DURJAIN tidak pernah menolak proyek apapun. Pernah terjadi, demo dua pihak yang kedua-duanya mengerahkan massa bayaran yang dikelola oleh Durjain. Di lapangan tentu saja mereka pura-pura tidak saling kenal.  Partai apapun yang minta massa pendemo, Durjain tak pernah menolak. Dalam hal ini ia tak pernah kenal apa yang namanya ideologi. Ideologinya adalah uang. Pernah ada ketua partai yang menawari Durjain jadi caleg. Mengingat popularitasnya di kampung-kampung yang ia kuasai, yang akan jadi daerah pemilihan di mana dia dicalonkan, kemungkinan besar Durjain akan terpilih dengan mulus. Durjain menolak.  “Sekali saya terpilih mewakili satu partai, maka saya tak bisa terima proyek lagi. Saya enak, tapi orang kampung saya mau kerja apa?” katanya.

Durjain sedang gundah. Ada sebuah proyek baru yang ditawarkan membuat dia bimbang untuk menerima. Ia merasa perlu berdiskusi dengan istrinya, Rodawati, untuk memutuskan sikap. Rodawati adalah anak Susi Becak, anak yang paling keras menangis ketika mayat ibunya ditemukan. Durjain dan Rodawati tumbuh dalam solidaritas korban.  Rodawati aktif membantu bisnis proyek suaminya.

“Ini proyeknya apa, Bang?” tanya Rodawati.

“Menentang pemberlakuan kembali becak,” kata Durjain.

“Saya mengerti kalau Abang bimbang,” kata Rodawati. Bagaimana tidak bimbang, dulu ayah dan ibunya kehilangan nyawa karena menentang pelarangan becak. Sekarang mereka harus berdemo menentang pemberlakukan kembali becak.

Memang, zaman mudah sekali berubah.  Penguasa itu seperti seenaknya saja bikin peraturan, dulu dilarang sekarang boleh. Apa mereka tak pernah berpikir tentang rakyat kecil yang selalu jadi korban?

“Itulah, Dek. Rasanya aku bersalah sama almarhum orangtua kita dan arwah tukang becak lain di kampung kita. Tapi, Dek, aku terlanjur terima uang muka proyek. Mau kukembalikan juga tidak enak. Lagipula ini bayarannya besar, lebih besar daripada biasanya. Hari ini mereka mau lunasi seluruh biaya proyek…”

 

PADA hari demo yang ditentukan, Durjain tidur. Ia matikan ponselnya agar si pemberi proyek tak bisa menghubunginya.  Rodawati menghidupkan televisi yang sejak pagi sudah melaporkan demo tersebut langsung dari lokasi.  Polisi dikerahkan ke lokasi demo.  Tak ada pendemo yang datang.  Tentu saja tak ada. Itulah yang diminta Durjain. Ia membagikan uang proyek demi tapi ia perintahkan warga untuk tidak datang ke lokasi.

“Jadi kita ngapain, Bang?”

“Terserah. Saya sih pengen tidur.”

“Iya deh. Tidur aja kita.. Enak banget. Duit dapet gak perlu tamasya!”

“Ngopi aja kita!”

“Tapi saya minta tetap ada yang jaga kampung. Jangan kasih masuk kalau ada orang aneh yang dateng, apalagi kalau dia nyari saya,” kata Durjain.

 

SEKITAR jam dua belas, ketika sebagian polisi sudah bubar, dan reporter hendak mengakhiri liputannya tiba-tiba saja ada kejadian yang aneh. Di langit ibukota, di depan balai kota itu, di mana demo menentang pemberlakuan becak akan digelar, berbaris terbang becak panjang sekali. Becak-becak itu menjatuhkan air laut, seperti gerimis.  Kalau diusut, ujung barisan itu  ada di teluk Jakarta. Becak-becak itu penuh rumput laut, terumbu karang, dan bermacam-macam tumbuhan laut.  Tapi bentuknya masih jelas terlihat sebagai becak.  Becak-becak itu membawa orang-orang di kursi penumpang. Orang-orang yang tak jelas wajahnya. Tapi jelas mereka berpakaian seperti tukang becak dengan topi dan handuk tersampir di pundak. Becak-becak itu mengeluarkan suara seperti bel becak. Bising sekali.  Lalu sebuah beca turun ke halaman balaikota. Polisi yang tersisa bersiaga dengan senapan terhunus.  Si pengemudi becak itu keluar dari becak, terbang perlahan, masuk ke balai kota, kamera mengikutinya, lalu pengemudi itu mengetuk-ngetuk pintu ruang Gubernur.

“Bang, bangun, Bang! Lihat tivi, Bang!” Rodawati membangunkan Durjain. Durjain mengucek matanya, dan melihat wajah si tukang becak yang terbang itu mirip sekali dengan ayahnya: Markalong.

 

Jakarta, Februari 2018

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s