Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan

Cerpen Hasan Aspahani

UNTUK sampai ke kampung kami mereka menempuh perjalanan jauh dengan bis antarprovinsi, menyeberangi teluk Balikpapan dengan feri, lalu melanjutkan dengan minibus, angkutan antarkota yang melewati kampung kami. Perlu waktu duapuluh jam lebih. Mamaku bilang berat juga mengurus bungkusan-bungkusan kain sebesar yang mereka bawa dan menempuh perjalanan sejauh itu.  Tapi sebagai pedagang tentu mereka sudah menghitung biaya perjalanan itu.  Aku tak bisa membayangkan sejauh apa perjalanan itu. Kami tak pernah ke Banjarmasin. Kami tak cukup kaya untuk berkunjung ke kota, tanah kelahiran kakek kami itu.

Orang kampung kami memanggil mereka sebagai Mamanya Wahab dan Mamanya Zaidan.  Panggilan itu merujuk ke nama anak lelaki tertua. Itu cara memanggil yang lazim di kampung kami. Mama dan bapak saya misalnya dipanggil sebagai Mamanya Adan dan Bapanya Adan. Adan adalah nama abang saya.

Saya tak pernah tahu siapa nama sebenarnya kedua penjual kain itu. Seperti juga saya tidak tahu nama-nama sebenarnya orang-orang tua di kampung kami, semua dipanggil sebagai bapak atau ibu dari anak tertua. Kedua pedagang kain keliling dari Banjarmasin itu sudah naik haji. Itu bukti bahwa berdagang kain yang mereka lakukan di kampung kami memang menguntungkan.  Mereka berjualan keliling kampung dari rumah ke rumah, tidak mengambil lapak tetap.  Kadang bersama-sama singgah di sebuah rumah, lebih sering mereka datang bergantian. Bila Mamanya Wahab berdagang ke arah barat kampung, mamanya Zaidan ke arah timur. Patokannya adalah masjid dan jembatan, itulah titik pusat kampung kami.  Kami tak melihat ada persaingan antarkedua pedagang. Barang-barang yang dibawa Mamanya Zaidan cenderung lebih mahal karena memang lebih bagus-bagus. Sementara Mamanya Wahab melayani kebutuhan pakaian rutin yang lebih murah.

 

“INI sarung batik lagi musim di Banjarmasin. Mamanya Adan sudah punya? Belum ya? Orang-orang kaya kalau tak punya sarung seperti ini belum sah jadi orang kaya. Kalau baru punya satu pun masih malu mengaku kaya,” kata Mamanya Zaidan.

Saya lebih suka Mamanya Zaidan daripada Mamanya Wahab. Dia ini lebih banyak bicara dibandingkan Mamanya Wahab. Sambil berdagang dia selalu bercerita. Ceritanya selalu tentang anaknya Insinyur Zaidan.

“Ah, kami bukan orang kaya,” kata Mamaku.

“Beli sarungnya dulu.  Ini buatan Solo. Bukan buatan Banjarmasin. Insyaallah nanti kan jadi orang kaya. Pohon kelapamu lekas berbuah semuanya. Nanti kalau sudah berbuah semua dan anak-anakmu jadi insinyur seperti anakku, Insinyur Zaidan, kamu kan jadi orang kaya,” kata Mamanya Zaidan.

Dari cerita-cerita Mamanya Zaidan, saya bisa menyusun gambaran tentang siapa Muhammad Zaidan, Insinyur Kehutanan itu.  Insinyur Muhammad Zaidan, begitu nama lengkapnya.  Mamanya Zaidan selalu menyebut nama anaknya selengkap itu. Dia lulus dengan nilai memuaskan, bekerja sebagai pegawai negeri di dinas kehutanan, menikah dengan perempuan cantik anak seorang pedagang kaya, dan punya toko dan percetakan. Percetakannya melayani pekerajan cetak-mencetak di kantornya dan kantor-kantor dinas pemerintahan lainnya.

Kata Mamanya Zaidan, di kampung kami tak ada perempuan secantik menantunya, istri Insinyur Muhammad Zaidan itu.

“Apakah istri insinyur Zaidan itu insinyur juga?” tanya Mamaku.

“Tidak, dia lulusan SMK saja. Dia anak bungsu orang kaya. Aku yang memilihkan menantu untuknya.  Kalau sama-sama insinyur nanti susah diurus. Istri insinyur mana mau nurut sama suami insinyur. Apalagi sama mertuanya yang cerewet seperti saya.  Saya tak mau punya menantu yang tak mau menurut saya. Insinyur Zaidan itu bisa jadi insinyur karena saya. Sudah berapa tahun saya berdagang seperti ini? Bertahun-tahun, untuk apa kalau bukan untuk membiayai kuliahnya. Sudah jadi Insinyur eh direbut orang. Enak betul jadi istrinya Insinyur Zaidan. Terima jadi. Mana mau saya. Makanya saya yang menentukan siapa yang harus jadi istri Insinyur Zaidan,” kata Mamanya Zaidan.

Selain urusan jodoh, perkawinan, istri, yang belum aku mengerti, waktu itu aku berpikir, enak sekali jadi insinyur. Tapi, aku mau jadi insinyur pertanian saja, bukan insinyur kehutanan. Pernah ada penyuluh pertanian di kampung kami. Ditugaskan oleh dinas pertanian provinsi. Dia bukan insinyur. Dia tamatan Sekolah Menengah Penyuluh Pertanian di Samarinda. Itu saja, di mata kami anak-anak kampung sudah sangat hebat, apalagi kalau insinyur pertanian, seperti Insinyur Zaidan.  Waktu itu tak ada seorang pun orang kampung kami yang  menjadi insinyur pertanian.

MAMAKU membeli kain di kedua pedagang itu, karena harganya cenderung lebih miring ketimbang belanja di toko di kota kecamatan, sementara pilihan dan kualitas barang relatif sama saja. Kadang-kadang ia juga membeli karena segan, dua tiga kali disinggahi tak membeli apa-apa. Tapi yang dia beli tetap barang-barang kecil yang kami butuhkan, seperti kaos kaki, sarung bapak kami, kerudung, atau pakaian dalam.  Kain dari Banjarmasin sering kali lebih bagus dan lebih baru model dan motifnya daripada toko di kecamatan. Itu alasan lain kenapa kami lebih suka berbelanja pada pedagang keliling dari Banjarmasin itu.  Bila pakaian yang kami butuhkan tidak ada, kami bisa memesan.  Sarung pertama saya, sarung yang saya pakai pada waktu saya disunat, dibeli dari Mamanya Wahab. Baju seragam sekolah kami dibeli dari Mamanya Zaidan. Mamaku tak memilih kepada siapa ia membeli, jika sedang butuh sesuatu, dan barang itu ada di  salah satu pedagang ya dia ambil beli saja. Apalagi keduanya mau memberi utang yang dibayar dengan mencicil. Mamaku tertib dalam urusan mencicil. Kedua pedagang dari Banjarmasin itu tak ragu memberi memberi utangan.

Tadi sudah kusebutkan, dibanding Mamanya Zaidan, Mamanya Wahab tak banyak bercerita.  Kalau Mamanya Zaidan yang datang saya suka menguping, mendengar ceritanya terutama tentang anaknya: Insinyur Zaidan itu. Kalau Mamanya Wahab yang datang saya lebih suka pergi, main bola, atau mencari kerang.  Mamanya Wahab, dari sesekali aku mencuri dengar,  paling-paling hanya menjelaskan kualitas kain yang ia jual.  Dia suka memberi bonus pupur dingin, pupur dari beras yang direncam sampai lumer lalu dibentuk bulat dan dikeringkan, buatannya sendiri. Pupurnya wangi karena dicampur taburan kembang tanjung.   Kadang-kadang ia juga membawa dodol kandangan. Kalau tidak membeli kain, mamaku biasanya membeli pupur atau dodol, sekadar penghilang rasa sungkan, karena sudah disinggahi pedagang kok tak membeli apa-apa. Mamaku memang begitu orangnya.

Dengan mamaku, Mamanya Wahab sebenarnya masih bersaudara jauh.  Di rumah kami, kadang Mamanya Wahab suka numpang tidur siang. Kadang juga ikut makan siang kalau Mamaku memasak sayur keladi dan ikan sepat bakar dengan sambal terung asam.  Dia bilang, kalau itu hidangannya dia tak bisa menahan selera.  Pernah Mamanya Wahab mau membayar tapi Mamaku tentu saja menolak.

“Yang saya jamu ini bukan pedagang kain, tapi sepupu saya sendiri. Meski kita bersepupu jauh, tapi kan tetap saja kita ada kait darah keluarga. Lagi pula, Mamanya Wahab ya, ini semua kami petik dari tanaman yang tumbuh liar di kebun kami sendiri. Ikan itu juga dapat memancing di sungai,” kata mama saya.

“Buka warung makan saja, Mamanya Adan. Di Banjar ada yang jualan begini, laku.”

“Di sini siapa yang mau singgah makan. Semua tinggal ambil di kebun, semua bisa masak sendiri. Saya bisa menjamu saudara saya sudah senang…,” kata Mamaku.

ADA suatu kali Mamanya Wahab datang ke kampung kami sendirian. Dia bilang Mamanya Zaidan sakit.  Orang tidak mau bertanya lebih jauh apa sakitnya. Lagi pula memang sesekali Mamanya Zaidan yang lebih tua dari Mamanya Wahab pernah juga sakit.  Pada kedatangan berikutnya Mamanya Wahab juga sendiri.  Dia bilang, Mamanya Zaidan masih sakit.  Begitu terus-menerus, sampai dia dititipi tagihan utang belanja kain di kampung kami.  Mamaku waktu itu ada berutang kain baju panjang dan batik untuk bapak saya.

“Sebenarnya Mamanya Zaidan kenapa kok lama tak berjualan?” tanya Mamaku. Dengan mamaku Mamanya Wahab tampaknya tak bisa menyimpan cerita.  Cerita yang membuat gambaran saya tentang insinyur runtuh.

“Insinyur Zaidan masuk penjara. Ditangkap polisi,” kata Mamanya Zaidan.

Sang Insinyur terlibat korupsi. Dia ikut dalam tim proyek pembukaan hutan untuk transmigran. Sebagai pegawai yang masuk kerja dengan menyogok, Zaidan sangat patuh pada atasannya. Mula-mula ia pegawai yang tampaknya polos dan patuh. Lalu ia belajar ikut irama kantor dan menjadi pandai bermain anggaran. Uang hasil korupsi proyek itulah yang ia pakai untuk membuka bisnis percetakan dan toko pakaian untuk istrinya.  Hartanya disita. Sementara Mamanya Zaidan menjual apa saja yang bisa dijual untuk mengganti kerugian negara dari uang yang dia korupsi.

“Istrinya menggugat cerai. Tapi Mamanya Adan jangan cerita ke orang lain ya, saya hanya bercerita padamu,” tanya Mamanya Wahab.  Mamaku, setahu saya tidak pernah bercerita pada siapapun, tapi sepertinya tak ada orang di kampung kami yang tak tahu tentang cerita tentang Mamanya Zaidan dan anaknya yang bernama Insinyur Muhammad Zaidan itu.

   Jakarta, Febaruari 2018

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan

  1. Ada beberapa penjual kain dari Hafalah Kalua, Nenek saya pun menjalani sebagian hidupnua sebagai penjual kain/ baju jadi. Dengan buntalan sarung atau kain lebar, dagangan ‘dipundut’ dengannya. Dibawa jalan kaki dari rumah ke rumah. Mama juga pernah berjualan kain di masa mudanya. Naik sepeda, buntalan kain diikat di ‘ ancak’ belakang sepeda. Cerpen ini mengenangkan masa-masa itu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s