Cerpen: Seseorang yang Menyanyi Seperti Malaikat

Cerpen Hasan Aspahani

“TERIMA kasih, sudah mendukung saya dengan SMS, juga online voting, sehingga saya bisa memenangkan kompetisi ini.  Tapi, saya harus sampaikan bahwa malam ini adalah malam terakhir saya bernyanyi…. ” lalu Drusbadur berhenti bicara.

Ia berdiam.

Ia menunduk.

Seperti menikmati kemegahan panggung dengan saling-silang cahaya yang mewah. Pemandu acara, para juri, penonton di studio dan penonton yang menyaksikan siaran langsung acara itu di rumah, semuanya menunggu, menunggu apa yang akan dikatakan olehnya selanjutnya…

DIA mengikuti kontes itu sebagaimana peserta lainnya. Penonton melihat ia seperti ribuan anak muda, dengan mimpi besar menjadi penyanyi tersohor mendaftar audisi di beberapa kota. Dia mendaftar di kotanya. Ini kontes tahun yang kesekianbelas.  Ia pernah ikut kontes serupa yang diselenggarakan oleh stasiun televisi lain, tapi belum pernah bisa lolos ke babak penyisihan. Ia tahu, waktu itu yang berhasil berlaga di babak bergengsi memang bernyanyi lebih bagus daripada dia.

Dia tak pernah menguburkan mimpinya. Dia terus berlatih menyanyi. Menjajal keberanian tampil di berbagai tempat. Ia mencari gaya dan cara menghasilkan vokal yang khas. Juga memilih lagu-lagu yang pas untuk dia nyanyikan dengan caranya sendiri. Pada audisi terakhir, yang meloloskannya ke Jakarta, ia membawakan lagu “The Man Who Sold The World”.

Ini pilihan lagu yang membuat juri bertanya, “Kamu penggemar Nirvana?”

“Tidak…”

“Kamu dengar lagu ini dari siapa?”

“David Bowie…”

“Tapi kamu pernah dengan versi Nirvana, kan?”

“Pernah. Tapi, bagi saya, terhadap lagu ini, posisi saya sama seperti posisi Cobain. Kami sama-sama menafsirkannya dengan cara kami menyanyikannya.”

Juri lain menceletuk, “boleh juga, nih. Siapa namamu?”

“Drusbadur, Om!”

“Dur, jadi apa tafsirmu atas lagu ini?”

“Ya, Anda sekarang sedang bertemu dengan saya seorang yang menjual dunianya. Menjual jiwa dan pribadinya,” kata Drusbadur.

 

DRUSBADUR benar-benar mengejutkan panggung kompetisi itu. Di babak penyisihan, dua puluh besar, sepuluh besar, hingga babak spektakuler, perkembangannya luar biasa. Dari seorang pemuda biasa yang tampak tak peduli pada dunia, dia bermetamorfosa menjadi bintang panggung.  Pilihan-pilihan lagunya pun tak lazim. Ada satu kali dia menyanyikan lagu Siksa Kubur. Ini lagu yang dipopulerkan dan memopulerkan Ida Laila.  Lagu dengan irama melayu, waktu itu bahkan istilah dangdut belum ada, itu ia nyanyikan dalam corak rock. Lagu itu jadi sangat mencekam. Suara rintihan, suara tangisan, insan yang berdosa, di dalam kuburnya… Drusbadur membawakan lirik pembuka ini dengan suara melengking tinggi. Efek terornya bangkit. Seperti azan sebelum jenazah dimasukkan ke liang kubur, kata seorang juri.  Menegakkan bulu kuduk. Malam itu, Drusbadur memperoleh 70 persen suara dukungan, angka yang tak pernah dicapai oleh peserta manapun sepanjang penyelenggaraan kompetisi itu.

Di babak lain, Drusbadur membawakan lagu Iwan Fals “PHK”.  Ini lagu tentang seorang buruh yang disingkirkan. Pesangon yang tak cukup redakan gundah. Dan akhirnya dia, dengan pisau tajam di tangannya, tertahan di hadapan pintu penjara.  Pemirsa di studio seperti terbakar dan pecah.  Vokal Drusba menggegelar penuh, mengisi dan menerjemahkan emosi dan marah di sepanjang lirik lagu itu.

“Dur, kenapa memilih lagu PHK ini?” tanya juri.

“Karena seingat saya tak pernah ada yang menyanyikan lagu ini di kompetisi ini. Dan saya bernyanyi bukan untuk bernyanyi. Saya tahu di luar sana, di gedung parlemen, ribuan buruh sedang berdemo menggugat PHK massal atas kawan-kawan mereka.  Lagu yang pas pada situasi yang pas bisa menggerakkan orang banyak… Saya ingin bisa melakukan itu, menggerakkan orang banyak,”  kata Drusbadur.

Konon, Iwan Fals pun sampai menemui Drusbadur untuk menyampaikan rasa salutnya. Rekaman Drusba menyanyikan lagu ini muncul dalam berbagai versi di Youtube, dan ditonton ratusan ribu kali, cepat sekali memviral. Rekamannya dibagikan di dinding-dinding media sosial.  Hari-hari itu, lagu itu pun dinyanyikan oleh ribuan buruh yang berdemo menentang PHK.  Banyak persoalan dasar memang belum beres di negeri ini. Termasuk hak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak yang masih jadi persoalan besar. Rezim berganti, dengan janji-janji besar yang berulang, terdengar seperti memutar kaset lama.

Pilihan lagu-lagu Drusba membuat peserta lain seperti sudah kalah sejak babak-babak awal.  Ketika harus tampil dengan konsep duet  Drusbadur memilih bernyanyi dengan saudara kembarnya, Brusdadur yang sedang terbaring di rumah sakit, terkapar kurus oleh kanker stadium lanjut.  Brusdadur ditampilkan di layar besar di latar belakang panggung.  Orang masih bisa melihat betapa wajah kedua saudara ini sangat mirip.

“Dia saudara kembar saya yang selama ini menginspirasi saya untuk bernyanyi. Suaranya jauh lebih bagus daripada saya,” kata Drusbadur. Dan itu terbukti benar. Suara Brusdadur memang terdengar lebih bagus daripadanya Drusbadur. Tapi penampilan duet mereka berdua lagi-lagi menunjukkan kelas Drusbadur sebagai penyanyi. Mereka menyanyikan Bod Dylan “Blowing in The Wind”.  

“Kami punya seorang saudara perempuan. Dulu kami suka menyanyikam lagu ini bertiga. Ya, kami membayangkan kami adalah Peter, Paul, and Marie. Itu versi “Blowing…” yang jadi rujukan kami.  Saya yakin, tadi dia ikut bernyanyi juga di sana…”

“Saudara perempuan kalian sudah meninggal?”

“Beberapa tahun lalu… Dia seperti Brusdadur, saudara saya yang sekarang di rumah sakit yang tadi duet dengan saya, juga punya mimpi menjadi penyanyi besar….”

 

Di babak lain, Drusba menyanyikan lagu KLa Project “Lara Melanda”.  Dalam lantunan suaranya, lagu dengan tempo perlahan tapi dengan naik turun nada yang mengejutkan dan dinamis ini menjadi sangat indah dan megah. Apalagi ia diberi kemewahan pengiring aransemen musik seakan sebuah konser besar.  Atas permintaan Drusbadur sendiri, denting piano di awal diganti dengan biola. Ini membuat sejak awal lagu ini punya daya tusuk yang lebih tajam.  Puncaknya tentu saja pada bagian ini: berkali diri ini, terpaksa jatuh, pada jurangnya bimbang, dan asa yang tercecer sempat bertanya, Senyum atau merahkah kau tawarkan, bagi jiwa dahaga ‘smara….

 

Drusba menjadi sosok yang sangat besar. Komentar-komentar juri pun tampak berubah, menghormat, salut, kagum, dan seakan-akan mengakui kebesaran Drusbadur melampaui kebintangan mereka sendiri.

“Kamu malam ini bernyanyi seperti malaikat,” kata seorang juri. Dan kalimat itulah yang dikutip media keesokan harinya. Drusbadur, penyanyi bersuara malaikat!  Gelar yang tak dipedulikan oleh Drusbadur, tapi terasa memang layak untuknya apalagi setelah ia tampil di malam grandfinal. Malam yang menyisakan dia dan seorang penyanyi perempuan yang sebenarnya juga punya kemampuan bernyanyi yang sepadan.

Seperti sudah diduga sejak babak-babak awal Drusbadur menjadi pemenang kompetisi itu.  Kemenangan yang nyaris sempurna. Ada juga media yang menyoal begini: ini kompetisi menyanyi atau emosi? Kenapa Drusbadur harus berduet dengan saudara kembarnya yang sedang sakit? Tapi, ocehan itu seakan tenggelam oleh kualitas kebintangan Drusbadur.

 

 

“TERIMA kasih, sudah mendukung saya dengan SMS, juga online voting, sehingga saya bisa memenangkan kontes ini.  Tapi, saya harus sampaikan bahwa malam ini adalah malam terakhir saya bernyanyi…. ” lalu Drusbadur berhenti bicara. Ia menunduk. Pemandu acara, para juri, penonton di studio dan penonton yang menyaksikan siaran langsung acara itu di rumah menunggu, menunggu apa yang akan dikatakan olehnya selanjutnya…

“Saya harus membuat pengakuan itu malam ini. Sebelum seluruh duniaku terjual, dan aku semakin menjadi orang lain yang bukan diriku. Meskipun orang lain itu adalah saudara kembar saya sendiri”

Studio hening. Penonton siaran langsung di seluruh negeri pun terdiam.

“Saya ikut kompetisi ini untuk saudara kembar saya. Dialah yang ikut mendaftar dan lolos. Ketika hendak berangkat ke Jakarta kami baru tahu bahwa dia mengidap kanker.  Saya tak bisa menolak ketika ia meminta saya menggantikan dia berangkat ke Jakarta menggantikan dia. Dia bilang itu permintaan terakhirnya, dan kami tahu dia benar. Malam ini, sebelum saya menyanyikan lagu yang terakhir tadi, saudara saya meninggal. Besok kami akan memakamkan dia.

“Saya membawakan lagu malam ini, seperti lagu-lagu lain yang saya nyanyikan di babak sebelumnya, selalu dengan perasaan bahwa itulah lagu terakhir yang saya nyanyikan.  Saya ikut kompetisi ini bukan hanya untuk saudara kembar saya, tapi sebagai saudara kembar saya. Saya tak pernah mendaftar. Saya tampil di sini menggantikan dia.  Kalau para juri, pemirsa, dan penonton di rumah ingat apa yang dikatakan saudara saya ketika kami duet, harusnya rahasia itu sudah diketahui. Sejak kecil kami suka menyanyi. Kata Mama, seperti wajah kami yang mirip, suara kami sama bagusnya,  tapi saya tahu saudara saya selalu menyanyi seperti menyanyi untuk yang terakhir kali. Saya tidak pernah bisa seperti dia, kecuali selama di sini, ketika saya menyanyi untuk dia dan sebagai dia…

“Karena itu, mohon maaf sekali lagi dan terima kasih sudah mendukung saya. Tapi  ini adalah malam terakhir saya bernyanyi.  Saya akan kembali lagi kuliah. Menebus lagi dunia saya yang terjual…  Berbulan-bulan berada di kompetisi ini, saya makin yakin dengan apa yang dikatakan Andy Warhol, “in the future, everyone will be world-famous for 15 minutes”. Bagi saya, ini hanyalah sebuah popularitas yang rapuh… dan saya tak akan pernah bisa lagi menyanyi kecuali nanti ketika saya tahu bahwa itu adalah untuk terakhir kalinya saya bernyanyi.”

 

Jakarta, Februari 2018.

Iklan

2 pemikiran pada “Cerpen: Seseorang yang Menyanyi Seperti Malaikat

Tinggalkan Balasan ke sondang Saragih Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s