Cerpen: Konsultan Politik

Oleh Hasan Aspahani

            “ANDA hanya bisa menang dengan money politics! Tak ada cara lain.  Hanya ini yang bisa saya sarankan. Kita sudah kerja keras beberapa bulan ini.  Semua sudah kita lakukan. Tapi kalau itu Anda lakukan, saya tak ikut bertanggung jawab,” Arman menutup presentasinya.

Di hadapannya, menyimak dengan takzim tim sukses Aryo – kandidat walikota yang sudah membeli jasa perahu beberapa partai politik. Sebelumnya dengan data-data yang kuat, Arman menunjukkan bagaimana elektabilitas dan popularitas Aryo memang naik, tapi tak bisa mengalahkan calon lain. Ini pertarungan bebas, tak ada petahana. Walikota sebelumnya sudah dua kali menjabat. Yang dilawan Aryo adalah wakil sang walikota sebelumnya.

Di kamar hotel, Arman berkemas. Ada penerbangan malam. Jika bisa tak menginap, Arman selalu memilih pulang ke Jakarta. Sejak menjadi konsultan politik, dia harus sering bepergian ke kota-kota kliennya. Nyaris seluruh provinsi sudah ia jejaki.  Arman bekerja dengan tim kecil. Kebanyakan tenaga lepas.  Taksi mengantarkan ke bandara kecil di kota kecil itu.  Tim kecil yang ia bangun bekerja dengan efektif, dan murah. Arman ingin calon yang baik bisa menang dan tak terbebani biaya politik yang besar, supaya tidak tergoda korupsi. Setidaknya, itulah sedikit idealisme kecil yang masih terus ia pelihara. Di ruang tunggu bandara, orang dari tim sukses Aryo menemuinya. Arman harus membatalkan penerbangan.

“Bung, berapa besar uang yang saya harus pakai untuk membeli suara pemilih, seperti yang Bung sarankan?” tanya Aryo, di ruang yang sama di mana tadi siang Arman memaparkan presentasi. Sebuah ruang rapat di sebuah hotel terbaik di kota itu. Kota itu sudah dipetakan oleh tim Arman. Karakter pemilih di masing-masing daerah pemilihan sudah dipaparkan. Di dapil mana Aryo diramalkan menang, dan di dapil mana dia tak akan meraup suara besar. “Di sini Anda harus membeli suara. Mereka pragmatis. Tak ada idelisme. Dalam dua kali pemilihan yang dimenangkan walikota sebelumnya mereka melakukan hal yang sama,” kata Arman.

Arman menolak untuk dibayar oleh Aryo. Ia hanya menerima uang pengganti biaya survei dan honor untuk tim kecilnya. Pilihan bagi Aryo memang hanya dua: mundur atau maju tapi main uang. Aryo memilih yang kedua. Sudah terlanjur banyak biaya yang ia keluarkan. Sebenarnya itu keputusan tidak murni datang dari Aryo. Beberapa investornya yang mendesaknya. “Saya profesional saja. Anda memang tak mungkin menang jika main bersih. Pemilih di kota ini, khususnya di kecamatan-kecamatan yang saya tunjukkan itu, sangat pragmatis. Mereka hanya akan memilih kalau ada uang. Mereka punya calo dan tarif yang terus naik. Bahkan jangan kaget nanti di sana akan  terjadi semacam lelang. Berapa yang kita tawarkan, calo suara akan menawarkan lagi ke kandidat lain, ” kata Arman.

Aryo menang.

Dengan angka-angka yang persis seperti yang disimulasikan oleh Arman selama masa konsultasi menjelang pemilihan. Arman tahu persis tim Aryo memang memainkan politik uang, karena memang hanya dengan cara itu mereka bisa menang. Tim lokal yang dipakai Arman ketika mengumpulkan data lewat beberapa kali survei mengabarkan itu.

Aryo dilantik oleh gubernur.

Dan setahun kemudian Kejaksaan menetapkannya sebagai tersangka kejahatan pilwako: politik uang secara massif di beberapa dapil. Kemenangan pasangannya dibatalkan. Kandidat saingannya pun tak bisa dilantik karena juga terbukti melakukan kecurangan yang sama.  Untuk sementara pemerintah pusat menunjuk sekretaris daerah menjadi pejabat sementara.

Sudah setahun lebih Arman tak menerima pekerjaan apa-apa. Ia hidup dari tabungan. Mantab, katanya, makan tabungan. Tadinya ia ingin pulang ke kotanya. Sudah lama ia tak pulang. Masih ada abangnya di sana, menempati dan menjaga rumah orangtua mereka. Tapi, lagi-lagi karena pertimbangan dana yang harus dipakai dengan hati-hati, ia membatalkan niat itu.

Apa yang ia kerjakan untuk Aryo membuatnya seperti trauma. Aryo adalah teman kuliahnya. Ia kenal benar siapa Aryo. Pribadinya, moralitasnya, idealismenya. Mereka sama-sama menjadi pengurus senat mahsiswa dulu di kampus. Aryo ketua senat. Arman menjadi pemimpin redaksi majalah kampus.  Itu sebabnya ia menerima ajakan Aryo. Yang tak ia perhitungkan adalah perilaku pemilih yang sedemikian pragmatis. Keyakinan Arman tentang berbagai hal seakan terguncang. Demokrasi, jalan terbaik bagi penyelenggaraan negara yang ia yakini selama ini, bisa rusak parah karena pragmatism dan memang tak pernah ada upaya perbaikan! Partai-partai tak pernah serius membina kader pemimpin yang kuat. Akhirnya uang yang bermain.

Selama mengaso Arman melakukan apa yang seperti terlupa sejak ia mengambil gelar doktor marketing politik di sebuah universitas negeri. Ia menulis puisi lagi. Ia bersastra lagi. Ada kawan asramanya, yang kini berkibar-kibar namanya sebagai pengarang. Kawan yang dulu juga sama-sama mengurus majalah kampus. Sesekali ia ikut naik pentas baca puisi. Dulu, ia raja panggung puisi. Ia adalah Rendra dari kampusnya.

Saldo di rekening tabungan Arman kian menipis. Tahun ini ia perlu keluar uang banyak. Anak sulungnya diterima kuliah di Amerika. Arman bukannya tak menyiapkan dana untuk itu. Tapi, banyak pengeluaran di luar persiapan: ambil kursus bahasa Inggris lagi, uang jaminan yang besar sekali meskipun ini nanti dikembalikan di akhir studi, dan beberapa pengeluaran kecil tapi jumlah totalnya besar juga. Bersamaan dengan itu, datang tawaran untuk menjadi konsultan pilkada di kota kelahirannya.

“Terima saja, Mas,” kata istrinya.

Arman menelepon.

Arman menandatangani kontrak pekerjaan. Sekalian pikirnya, sudah lama dia tak menengok kotanya. Sudah lama ia tak bertemu abangnya.  Kandidat yang ia bantu cukup potensial. Pengusaha muda, bersih. Hanya perlu sedikit mengangkat popularitas. Ia menelepon abangnya, sebagai langkah awal mengetahui sosok kandidat yang sedang ia bantu. Abangnya bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi di kotanya.

“Arman, kebetulan sekali. Pas kamu menelepon. Aku dari kemarin juga mau telepon kamu,” kata Abangnya di seberang sambungan. Mereka saling bertanya kabar, sampai Arman bertanya soal si kandidat.

Kata abangnya, “dia lawan saya nanti. Oh ya, saya juga maju di pilwako tahun depan. Itu yang ingin kusampaikan, Man. Bantu saya ya? Kudengar reputasimu luar biasa, banyak walikota dan bupati yang kau menangkan.”

 

Jakarta, 8 Januari 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s