Instacerita: Pengukur Arah Kiblat

Instacerita oleh Hasan Aspahani

1.

MASJID besar di kota kelahirannya itu arah kiblatnya salah. Dia tahu, dia merasakan itu sehabis salat magrib berjamaah, pada hari pertama kepulangannya. Masjid itu dibangun di atas lahan masjid lama. Seingatnya dulu arah kiblat masjid itu tak seperti sekarang. Dua puluh tahun di kantor pusat ia mengurusi hal itu. Ia mengepalai bagian kalibrasi dan sertifikasi arah kiblat. Sudah puluhan ribu masjid dikalibrasi arah kiblatnya olehnya bersama timnya.

2.
“Kamu melihat itu?” tanyanya kepada keponakannya, anak abang tertuanya, anak muda lulusan perguruan tinggi agama Islam di kota provinsi. Masih menganggur. Anak muda itulah yang kini mendiami rumah masa kecilnya.

“Aku melihatnya, Paman!”

“Kau tak memberi tahu takmir masjid?”

“Paman-paman yang lain melarangku untuk bicara…”

3.
Masjid itu adalah masjid terbesar di kota kecil itu. Beberapa orang sepupunya jadi pengurus. Juga masjid termewah dibanding masjid di kota lain di provinsi itu. Dibangun oleh seorang saudagar yang sebenarnya bukan penduduk asli kota itu. Sudah lima tahun dipakai sejak pertama kali diresmikan. Nama masjid itupun diganti, mengambil nama si Saudagar dermawan: Masjid Hajaral Aswad.

4.
“Semua dana untuk membangun ulang masjid itu dari beliau…” kata kawan masa kecilnya, pemilik toko buku agama di pasar. “…pemborong yang membangun datang dari kota, pemborong terkenal, rekanan beliau juga. Bahan-bahan terbaik. Kubahnya, kau lihat, itu berlapis emas.” Kata temannya dengan nada bangga. Ketika ia bicara soal arah kiblat, temannya berkata, “sebaiknya tak usah kau usik soal itu”. Si teman tiap tahun dapat proyek penunjukan langsung dari takmir masjid untuk pengadaan Alquran dan kitab-kitab agama. Toko bukunya kini jauh lebih besar daripada keadaan terakhir yang ia ingat. Kini, si toko menempati tiga pintu ruko.

5.
Akhirnya ia berdiam saja. Ia tak mengatakan soal itu itu kepada orang-orang lain yang ia temui, kawan-kawan masa lalunya, juga orang-orang baru yang ia kenal, para pendatang, dan orang-orang yang singgah sembahyang di masjid. Ia juga tak bicara pada takmir masjid ketika ia diundang ikut rapat sehabis Isya, pada suatu malam. Ia diperkenalkan sebagai pensiuan kantor agama pusat yang akan menghabiskan hidup di kota itu.

6.
Malam itu juga ia diperkenalkan kepada si Saudagar. Ia orang dari daerah lain. Satu-satunya orang yang dapat izin menambang batu bara di kawasan kota itu. “Kota ini sudah menjadi seperti kota kelahiranku sendiri,” kata si Saudagar. Ia mengaku tak menghabiskan waktu banyak di kota itu, kecuali sesekali singgah untuk mengawasi usaha tambangnya. “Saya kenal bapakmu. Saya sempat bertemu sebelum beliau meninggal. Aku seperti anak beliau. Kita ini saudara,” kata si Saudagar itu padanya.

7.
“Nanti kita bertemu lagi. Ada yang harus kita bicarakan,” kata si Saudagar. Nama sebuah hotel besar di kota itu disebutkan sebagai tempat pertemuan. Itu milik si saudagar juga. Kebetulan, pikirnya, apapun yang hendak dibicarakan nanti, ia akan bertanya soal arah kiblat yang meleset itu. Ia tak nyaman, setiap kali sembahyang berjamaah di sana, ia tak bisa khusyuk. Yang ia heran, jemaah lain tampaknya tenang-tenang saja.

8.
“Saya mau maju. Bupati sekarang sudah dua periode. Jadi, tolong jangan bicara dulu soal arah kiblat yang melenceng itu. Bantu jaga reputasi saya. Nanti…”

“Tapi kan tak harus membongkar masjid, arahkan saja susunan karpet atau sajadah imam ke titik yang benar.”

“Tetap saja itu artinya saya membangun masjid yang salah! Jadi biarkan saja dulu.” Ia lantas menawarkan sejumlah uang, yang sangat menggiurkan untuk seorang pensiunan pegawai negara.

“Uang tutup mulut?”

9.

“Dan ada uang yang lebih besar lagi, kalau mau menerima tawaran lain dari saya. Jadilah lawan saya di pilkada nanti. Semua biaya dari saya. Termasuk untuk beli partai. Saya tak punya lawan. Tak ada yang berani. Tentu saja nanti saya yang harus menang. Gimana?”

 

TAMAT

Iklan

Satu pemikiran pada “Instacerita: Pengukur Arah Kiblat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s