Beberapa Pelajaran yang Kudapat Setelah Bertemu Dia

: rdp

1.
IA mungkin berpikir dengan puisi. Ada pohon besar, pohon kata, di kepalanya. Rimbun dan subur. Berbuah lebat sekali. Berbagai amsal menggantung matang. Jika hendak mengucap, ia tinggal pergi memetiknya. Tapi ia biarkan juga kelelawar mencuri pada malam-malam ia meninggalkan dirinya sendiri.

2.
Ia menulis seperti penebang. Ia pandai memanjat. Tapi pohon-pohon kata di kepalanya harus tumbang, dengan kapak di tangannya sendiri, agar terendam batang besar itu. Ia tahu akan tumbuh tunas-tunas baru, akan matang buah-buah amsal baru. Sebagai perantau, begitulah ia ingin memasuki, kepalanya sendiri.

3.
Ia telah banyak memakan jalan. Ia telah menemukan tapi ia terus saja berjalan. Ia tahu musim tak selalu kemarau. Ia tahu pohon tak selalu meranggas, dan akan berjatuhan benih-benih baru. Ia ingin seperti pohon yang tumbuh di kepalanya, yang bayangannya meneduhkan, yang terbawa kemana pun ia mencari jalan.

Baca juga
Seseloki Espresso
Seseloki Espresso

AKU mencoba percaya lagi pada apa yang telah berkali-kali  gagal mempertahankan   waktu: seseloki espresso.     Waktu adalah uap panas Baca

Sesabar Tanah, Setenang Pohon
Sesabar Tanah, Setenang Pohon

aku jalani hidup sesabar tanah subur menghidupkan hidup dari apa yang mati dan menerima lagi yang kembali dari hidup aku Baca

Sekebat Kelebat Aforisma
  • Save

"Jam berapa ya sekarang?" tanya arloji padaku. Aku kira dia sedang mati. Ternyata, dia sedang tidak percaya pada diri sendiri.

24 Jam Tidak Bersama Siapa-siapa
24 Jam Tidak Bersama Siapa-siapa

00.00 - aku sudah tertidur dan hari dianggap telah berganti menciptakan sebuah kemarin dan menetapkan sebuah hari ini, dari jam Baca

2 thoughts on “Beberapa Pelajaran yang Kudapat Setelah Bertemu Dia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap