Yang Liar dan Yang Berdarah

BANYAK teman yang percaya berbagi cerita pada saya. Ceritanya kadang-kadang sangat personal. Saya menghormati kepercayaan mereka dengan menuliskannya menjadi puisi untuk mereka. Salah satunya Erie Prasetyo. Untuk dia, saya bahkan membayangkan sebuah novel biografis. Kami pernah membicarakan kemungkinan itu, tapi karena jarak dan waktu rencana itu masih tinggal sebagai rencana.  Puisi berikut ini, saya tulis 2011, mungkin bisa dianggap sebagai kisah pendahuluan dari rencana kami itu.

Yang Liar dan Yang Berdarah

                                                             : Erie Prasetyo

KITA sedang sakit. Hidup hanya dari sakit ke sakit.
Menyesali banyak kesalahan yang semakin benar.

Itu misalnya, pernah kau tuliskan dalam daftar seratus
hal yang kau inginkan, dan seratus hal lain yang tidak
kau kehendaki. Kau tak tahu di mana kau sepatutnya
menuliskan ‘Bali’ di daftar itu, sebab sesuatu yang amat
buruk dan juga amat berarti berawal dan berakhir di situ.

*

Kita pelihara lapar dan marah. Yang liar. Dan berdarah.

Keduanya kini bisa bernama Puisi. Kau menuliskannya
kini di antara waktu luang, dalam perjalanan kota ke kota,
di sela-sela tur sangat panjang,  sebuah kelompok musik,
yang jatuh dan bangkit bersamamu. Puisi yang, katamu,
kini sabar menyabarkan, menjinakkan, membebat luka-luka,
yang dulu menutup-membuka di tempat-tempat yang sama.

*

Kita telah terbiasa sakit, dengan rasa sakit kita ini.

Hingga kau tak lagi mau tertipu, surga yang menipu,
kau beritahukan parut luka kecil di lipatan lenganmu.

Kau bilang, “Empat tahun lamanya, aku berjalan di
muka bumi, tapi saat itu aku tak sedang ada di dunia.”

Dan dunia hanya gelap, menjauh darimu, menyempit.

*

Kita sedang menyembuhkan sakit kita sendiri. Sendiri.

Dengan harapan yang sederhana: nanti cinta yang
menata bata, sebongkah-sebongkah, hingga tegak
sebentang dinding ingatan, bayangan meneduhkan.

Aku melihat tiga bidadari di punggungmu. Dengan
tiga bentang sayap. Yang sabar menjaga mimpimu.

Saat kau memeluk mereka, satu per satu, mereka
dengan bangga membaca, nama-nama mereka
berbaris indah, di sepanjang lengan kananmu.

Baca juga
Menulis Surat Pembaca Sambil Mendengarkan Chuck Berry dan Mengenang Apa yang Masih Tersisa dari Reformasi 1998 di Negeri Ini
Menulis Surat Pembaca Sambil Mendengarkan Chuck Berry dan Mengenang Apa yang Masih Tersisa dari Reformasi 1998 di Negeri Ini

AKU menulis surat pembaca untuk sebuah koran nasional, tapi mungkin mereka tak akan memuatnya. Aku menulis surat pembaca, karena tak Baca

Kata-kata – Sajak Yahia Lababidi
Kata-kata – Sajak Yahia Lababidi

Yahia Lababidi Kata-kata kata-kata itu seperti hari-hari: buku mewarna gambar atau tukang copet, rambu-rambu atau tanda bekas luka atau fakir Baca

Komentar Seorang Teman Setelah Membaca Puisiku
Komentar Seorang Teman Setelah Membaca Puisiku

KAU perancang busana. Puisimu kau ciptakan untuk para model bertubuh sempurna. Aku tak akan pernah memakai puisimu seperti para model Baca

Penyair dan Tawa Tuhan
Penyair dan Tawa Tuhan

KETIKA bertemu Tuhan penyair itu memberikan puisi-puisinya "Bacalah," katanya. Tuhan melihat sekilas, kemudian tertawa. Penyair itu tak tahu apa yang Baca

One thought on “Yang Liar dan Yang Berdarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap