Meja yang Lain, Malam yang Lain

KENANGAN menegur dia dari meja lain, di kafe itu,
malam lain, remang lampu, sebentar lagi ia matikan

Perempuan di hadapannya, meringkas cerita 30 tahun,
dan pertanyaan penghabisan: apakah akan kau tahan
atau kau biarkan aku meninggalkanmu, seperti dulu?

“Aku pulang, mungkin hanya singgah, dan menulis buku,”
kata perempuan itu, sambil menyeka gula dengan tisu,
yang ditaburkan oleh lelaki itu, 30 tahun lalu.

“Apakah akan kau tahan atau kepergianku kau biarkan?”

“Kenangan itu milik kita, dan kafe ini kini milikku,”
kata lelaki itu sambil memandang ke meja lain, pada
kursi yang kosong, dan roti puding sepisin yang
tak sempat dinikmati oleh si perempuan.

Ketika lampu dimatikan, maka lelaki dan perempuan itu
telah menyepakati berapa harga pengganti kenangan,
tiket antarkota, dan kebahagiaan yang akan mungkin.

Baca juga
Pantun Angin Liar
Pantun Angin Liar

tombak besar gagang pun panjang kuat serat tali pengikat ombak liar angin pun jalang kami teringat Pulau Penyengat bila tiada Baca

Kaca Mata
Kaca Mata

MATAKU rabun jauhaku tak bisa melihat diriku sendirikarena kami selalu berjarak. Aku perlu kaca mata minusaku membawa matakuke toko kaca Baca

Hal-hal yang Bergerak Tidak Lurus dan Tidak Beraturan
Hal-hal yang Bergerak  Tidak Lurus dan Tidak Beraturan

MISALNYA kita berangkat dari Payakumbuh pada pukul dua dinihari dengan seorang supir asyik bercerita tentang kaidah matrilineal jalanan yang berkelok Baca

Bersama Pak Bondan pada Suatu Pagi di Batam
Bersama Pak Bondan pada Suatu Pagi di Batam

"KALAU ada waktu dan uang saya mau cari DeGuzman. Saya yakin dia masih hidup,” kata Bondan Winarno, beberapa waktu lalu, Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap