Pulang dari Jonggol

DI Jonggol kami menanam jengkol di tanah negara
yang dikuasai perusahaan negara, dengan
perjanjian bagi hasil dan hak pakai 30 tahun.

Negara tak punya uang cukup untuk menjaga hutan
dan menyumpal pegawai dan pejabat yang korup.

Di Jonggol kami membuka kebun jengkol. Panen lima
tahun lagi. Nanti di sela-selanya kami tanam
kopi. Negara sedang berambisi mengalahkan Brazil
dan Vietnam, menjadi negara kopi nomor satu.

Siapa tahu kami bisa ikut membantu dengan cara
ini: menanam kopi di sela-sela jengkol kami.

Nanti kalau panen perdana kami undang menteri,
atau presiden, yang seperti kami, suka pencitraan.
Inilah kopi spesialti, kopi beraroma jengkol asli.

Di Jonggol, dua jam dari ibukota, sekelompok
perempuan tua memanen laos, bekerja dengan upah
harian, bergantian menyalakan rokok sambil
ngobrol tentang BPJS, dalam bahasa Sunda.

“Punten, Ibu,” saya permisi, mencoba untuk tak
terdengar seperti sedang berbasa-basi.

Seorang dari mereka bertanya saya mau ke mana,
saya jawab, saya mau ke kebun jengkol kami.

Lalu sepanjang jalan, pulang dari Jonggol,
pertanyaan itu mengejarku, di sepanjang jalan tol,
menuju Jakarta. Mau kemana? Mau kemana?

Aku baru saja dari kebun jengkol, yang panen
lima tahun lagi. Terjebak macet di jalan tol.
Dikejar pertanyaan buruh tani yang memanen
harapan yang tak pernah menjadi milik mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s