Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi

klinikpuisiPUISI bergerak antara dua hal: sukma berlagu dan suara bersaksi. Sukma berlagu, atau jiwa bernyanyi, melahirkan nyanyi sunyi, semacam lirisme yang memperhadapkan pembaca dengan wajah dan dirinya sendiri. Puisi dengan nyanyi sunyi mengajak pembaca meninjau ke dalam dirinya sendiri.

Suara bersaksi membawa pembaca ke situasi orang ramai, di mana puisi adalah suara yang menyeru dan menderu, membangunkan ketidaksadaran, membangkitkan, mengajak bersaksi atas ketidakberesan, ketidakadilan, dan ketidakseimbangan.

Keduanya mempunyai kadar manfaat (utile) dan kemolekan (dolce) masing-masing.

Puisi dengan suara bersaksi kadang tergoda untuk mengabaikan kemolekan bahasa karena sibuk pada kesaksian yang hendak dihadirkan. Puisi dengan sukma berlagu kadang asyik menyolek diri sehingga kecantikannya terasa dibuat-buat.

Sajak yang demikian kehilangan kewajaran, keluar dari wilayah perbatasan, wilayah ambang dan kemudian juga membuatnya kehilangan kandungan magnet, daya pikatnya.

Menyair adalah menarik garis, membuat sebuah lingkaran, labirin yang sesungguhnya adalah sebuah kurva terbuka yang pelik dan dengan berhati-hati meletakkan puisi di sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s