Muslihat Pagi Buta

Buka dan baca. Kau akan tahu ini sajak tentang apa. Fatih Muftih menuliskannya dengan sangat bagus.

Mahafatih

Seperti yang sudah dikatakan. Pagi masih buta dan bapak akan mengajakku ke wahana hiburan. Aku membayangkan kuda-kudaan yang berputar penuh lampu. Ada juga penjual gulali besar yang boleh kujilati sampai habis. Bapak tidak membawa arlojinya. Katanya, di sana waktu tidak lagi bekerja. Duh, keriangan lincah bermain di angan-angan. Aku, kataku pada Bapak, ingin bermain lama-lama di sana. Selamanya.

Ibu tentu paling sibuk berkemas. Perhiasan terbaik ia tanggalkan. Seperti Bapak. Katanya, segala di sana suka-suka. Cokelat besar-besar boleh kuhabiskan tanpa takut gigi berlubang. Aku mau pakai baju kembang penuh warna. Tapi Ibu melarang. Disiapkannya baju hitam-hitam. Taman bermain di sana, kata Ibu, dipenuhi bunga macam warna. Aku gegas mandi. Hari ini girang sekali, tidak perlu bedak di pipi. 

Jauhkan perjalanan kita hari ini? Bapak menggeleng. Ibu pilih mendekap adik yang merasa sarapan pagi ini begitu terburu-buru. Kuberikan bunga kertas padanya. Ia menerima tapi tidak ada senyum darinya. Mata Ibu pun…

Lihat pos aslinya 57 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s