Mandi di Medini

: Triyanto Triwikromo

DUA derajat celcius itu tidak dingin, kata Berlin
kita tidak sedang melacak siapa-siapa, juga Kafka
selingkar jalan kau tempuh, menuju malam yang lain

Maka mandilah, senja segera memulai metamorfosa

Cuaca memupuri udara gunung dengan kabut yang cair
di Medini, di antara teh dan kopi, tanah menganga

Seorang guru menelurusi jejaknya, memburu talas umbi
seperti mengenali wajahnya pada wajah murid-muridnya

Air masih mengalir pada pipa panjang ini, kata Medini
dengan gemuruh kali, yang tak lagi memutar turbin

Yang kau temukan juga – warna dan bau seperti darah,
tapi itu memang darah, Medini, di antara teh dan kopi.

Iklan

4 pemikiran pada “Mandi di Medini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s