Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran

klinikpuisiPENGALAMAN adalah bahan dasar dari puisi.  Dari mana penyair mendapatkan pengalaman? Tentu dengan mengalami sendiri sebuah peristiwa, disengaja atau tidak disengaja. Itu pengalaman langsung namanya. Ia juga bisa mendapatkan pengalaman tak langsung dari buku yang ia baca, dari musik yang dengar, dari film yang ia tonton, dari kawan yang bercerita padanya, atau dari puisi lain.

Tak semua pengalaman akhirnya menjadi puisi.  Kenapa? Karena sebelum pengalaman itu diwujudkan dengan kata-kata, lalu menjadi puisi, ia harus melewati satu tahap yaitu ia harus menjadi kesadaran. Penyair harus menyadari benar, apa yang ia alami. Ia harus mengerti benar peristiwa yang menimpanya.  Kesadaran itu menggerakkan penyair untuk memaknai, atau memberi arti pada pengalamannya.

Keperluan untuk menumbuhkan kesadaran itulah yang membuat penyair harus mengambil jarak dahulu dengan peristiwa yang ia alami.  Jarak waktu dan jarak emosi.  Tanpa jarak, tanpa kesadaran, maka puisi yang dihasilkan akan dipenuhi emosi karena penyairnya menulis ketika dikuasai emosi.

Kesadaran tidak menghilangkan emosi pada puisi, tapi justru menguatkannya, dan yang terpenting: membentuknya. Jarak waktu dan jarak emosi, memberi kesempatan pada penyair untuk mengatur atau menata bagaimana emosi itu dihadirkan. Itulah salah satu hakikat estetika dalam seni puisi.  Pengaturan itu gagal jika hasilnya adalah sajak yang artifisial, kutub lain dari sajak yang gagal. Pengaturan itu harus selalu terasa wajar.

Nanti, ketika pembaca puisi menemukan kata-kata puisinya, mula-mula kesadaran itulah yang juga menggerakkan pembaca untuk memaknai puisi itu.  Bagaimana dengan pengalaman penyair yang menjadi bahan puisi si penyair? Apakah pengalaman itu   harus sampai kepada pembaca persis sama seperti yang dialami penyair? Bisa tapi tidak perlu.  Puisi bisa menjadi pengalaman baru bagi pembaca yang sama sekali berbeda dengan pengalaman asal yang menggerakkan penyair untuk menuliskannya.

Kita kutip Asrul Sani dari esainya “Pembahasan Orang-orang yang Kenes” (Siasat, 4 Oktober 1953): …. menulis tentang kesusastraan ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan dan kemanisa yang telah dialami, pengalaman yang telah jadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata yang membentuk kalimat dan kalimat yang menjadikan karangan.”

Itulah mungkin yang disebut dengan cara lain oleh Rainer Maria Rilke, apa yang dialami oleh penyair, pengalaman yang memperkaya hidupnya itu, harus ia lupakan sebelum datang sebagai kenangan (dan kita boleh menyebutnya sebagai kesadaran), dan itulah saatnya menuliskannya menjadi puisi.

Pengalaman itu tak harus istimewa. Masa kecil yang biasa-biasa saja bisa diolah sebagai bahan yang kuat untuk menjadi puisi yang istimewa.  Hal ini misalnya kita dengar dari pengakuan proses kreatif Sapardi Djoko Damono. Pengalaman bermain dolanan, dan suasana perang di kotanya, ketika ia kecil, dia katakan, dialami dan dilakoni oleh ribuan anak. Tetapi, ….”ternyata kemudian, masa kecil yang sama sekali tidak istiwewa itu menjadi sumber bagi sebagaian puisi saja; setidaknya bisa dikatakan bahwa beberapa sajak yang saya sukai mengingatkan saya pada masa kecil tersebut.”

Maka, duhai penyair, perkayalah pengalaman hidupmu, alami dan hayatilah berbagai peristiwa, kecil atau besar, sama saja, dan bangkitkanlah kesadaranmu atas pengalamanmu itu. Kata-kata akan berdatangan padamu, membantumu memberi wujud pada kesadaranmu atas pengalamanmu itu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s