Prelude to Attitude – Conrad Aiken

Conrad Aiken
 Elu-eluan bagi Leluri (Prelude to Attitude)

I.
Musim dingin sejenak mengurung isi kepala; salju
Jatuh lewat lengkung cahaya; tetes air beku, mendinding;
Angin merintih menembusi belah celah tingkap;
Percik embun yang tajam di ambang jendela.
Hanya sejenak; karena musim semi pun kan merangkulnya,
Dengan sekuntum krokus pada lempung, atau sepasang burung;
Atau musim panas, rumput hangat; atau musim gugur, daun menguning.
Musim dingin di luar, membeku di dalam daku:
Planet-planet bertirai salju, mempertebal es di bulan,
Mempergelap gelap yang telah menggelapkan gelap.
Ingatan pun menyalju, jalan kecil menggelincirkan,
Dinding dibayoneti salju, tersimpan dalam peti salju.
Inilah ruang yang ditarik, ke tempat engkau kembali
Ketika angin bertiup dari bintang biduk: inilah api
dan engkau hangatkan tangan dan membungalah matamu:
Pada Piano, kau sentuhkan suara tinggi;
Lima nada lalu beku napasmu; dan kemudian bisu.

Detak jam alarm dan waktu yang berdenyar,
Malam dan pikiran yang pepak suara. Aku berjalan
dari tungku-api, dengan nyala imajinasi,
Ke jendela, dengan pandang imajinasi.
Kegelapan, dan salju mengetuki di jendela: sesenyap sunyi,
Dan ketukan rantai pada mesin mobil, berdentang
Lonceng perunggu, memanggil Kristos.
Dan kemudian deru sayap malaikat, kibas
sayap iblis, dari dasar ngarai pikiran:
Gelap kedap, lagu-siul seringan bulu, kibas sayap
Bagai serpihan salju malaikat tak tepermanai
Kosong yang dalam diperparah sayap dan suara sayap,
Menampi kekacauan, gairah kehidupan
dari dalam yang dalam, ke dalam maut yang dalam.

Inilah omong kosong tentang omong kosong
Percakapan konyol, berulang kita ulang
omong tak berarah. Kenangan, seperti pesulap
melambungkan bola warna ke arah cahaya, lalu kembali
menangkapnya dalam kegelapan. Inilah absurditas,
seringai seperti pandir, seperti si rakus omnivora
memakan segala hari sepanjang hari. Segenggam uang logam,
tiket, perkara berita, saputangan kotor
Surat yang harus dibalas, pesan pada telepon
sekelopak bunga dalam eksemplar Shakespeare,
Jadwal konser. Lembar foto-foto, juga,
Ditata pada meja, yang menyimpan kuncup kering mawar;
Tagihan binatu, korek api, asbak, nelayan-mutiara
Utamaro. Dan pada karpet, menyepah remah-remah
sisa pesta. Inilah kekosongan, malam,
Dan sayap malaikat bikin sunyi menyuara.

Maka apakah bunga? Bukan sedu-sedan warna
sesak hembus ungu, desis sebaya jingga
juga bukan warna mulia nafas dari diam makam-makam.
Tapi karena engkau, engkau merenungkan ini,
Memurni dari kemurnian, yang rentan
Sebagai cahaya, atau kilau, atau pendar,
Sebagai cahaya, atau kilau, atau sinar, atau kerlip,
Makhluk kecerahan dengan sekilas kecerahan.
Maka apakah hampar es? Itu bukan sinar kematian,
Kilatan sayapnya waktu, benihnya keabadian;
Tapi karena engkau, engkau merenungkan ini,
Dan karena engkau, engkau merenungkan ini, keduanya
kabut salju dan bunga, sukukata yang terang dan yang remang
Yang berarti keduanya: yang tidak dan yang iya.

Inilah cermin tragis yang menyimpangkan bayangan
Yang memegah laku dan gerak tubuhmu;
Airmata mengada dan jatuh dari mata mencengang mata
Alisnya yang agung, mulutnya mengandung Sabda.
Inilah Tuhan yang mencari bundanya, Kekacauan, –
Kebingungan mencari jalan, dan hidup mencari kematian.
Inilah mawar yang membujuk tetes air beku; dan
tetes air beku yang merayu mawar. Inilah sunyinya sunyi
Ketika mimpi-mimpi menjadi suara, dan suara
menyempurna dalam sunyi. Dan semua hal-ihwal ini
hanyalah hulu dari kekosongan,
sayap-sayap malaikat dan iblis, suara dari ngarai
dipersembahkan bagi kematian. Dan inilah engkau.


Teks asli ada di sini.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s