Tema-tema Lokal yang Tak Terjebak Lokalitas Sempit

Catatan pengantar saya untuk buku puisi Arco Transept “Didera Deru Kedai Kuala”. Petikannya: … saya ingin menutup dengan sebuah permakluman, ada satu sajak di buku ini yang ditujukan kepada saya, tapi bukan karena “disogok” dengan sajak itu maka saya “berbaik hati” memuji hasil kerja serius Arco sebagai penyair. Ia memang layak mendapat perhatian kita, dan pantas kita tunggu perkembangan berikutnya.

Kuala Sajak

Oleh Hasan Aspahani

KITA tidak tahu berapa banyak puisi Chairil Anwar yang ia musnahkan sebelum ia meyakini sajak “Nisan” (1942) sebagai sajak yang pantas ia terbitkan sebagai sebuah sajak yang “menjadi” dan membangun “sebuah dunia” sendiri.
Kita juga tak tahu sajak-sajak seperti apa yang dirobek-robek oleh Sutardji Calzoum Bachri sebelum ia menerbitkan sajak-sajak dalam “O“, lalu “Amuk“, kemudian “Kapak“, dan merasa telah bisa membebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu, dari penjajahan-penjajahan seperti moral kata, dan dari penjajahan gramatika.
Tapi kita bisa tahu sajak-sajak apa yang diabaikan oleh Sapardi Djoko Damono sebelum ia dengan penuh percaya diri menerbitkan kumpulan puisi “Duka-Mu Abadi“, dan menjadi penanda penting bagi kebesarannya sebagai penyair.
Saya ingin memulai pembicaraan atas sajak-sajak Arco Transept di buku ini dengan pelajaran dari tiga penyair besar tadi. Kapan seorang penyair harus menerbitkan sebuah buku puisi? Buat apa menerbitkan sebuah…

Lihat pos aslinya 1.676 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s